Remaja SMK Dharma Patra: Mengatur Keuangan sambil Menjaga Kesehatan Mental
LANGKAT, KMI NEWS.CO - Pola gaya hidup boros pada kelompok remaja kini menjadi perhatian serius. Mulai dari mengejar perkembangan terbaru dalam teknologi ponsel pintar, berbelanja daring tanpa pertimbangan matang, sampai berkumpul di tempat ngopi yang sedang hits.
Para siswa di SMK Dharma Patra Pangkalan Susu juga mengalami hal serupa, dengan sering kali jatuh ke dalam pola pengelolaan uang yang buruk. Tidak jarang situasi tersebut menyebabkan tekanan, hutang pribadi, dan penurunan motivasi untuk belajar.
Menanggapi situasi itu, sejumlah dosen dan mahasiswa dari Politeknik Negeri Medan, Universitas Bina Bangsa Getesempena, serta Politeknik Bosowa Makassar ikut campur melalui program pendidikan bernama "Pendidikan Perencanaan Keuangan". Acara ini diadakan pada hari Sabtu tanggal 16 November 2024, dengan para partisipannya adalah siswa kelas 12 yang mengambil jurusan Administrasi Bisnis di SMK Dharma Patra.
Kegiatan pendidikan ini tidak sekadar menjelaskan bagaimana cara merekam biaya dan menyimpan uang. Bahkan lebih jauh lagi, rombongan pengabdian memberi pengetahuan kepada para siswa mengenai hubungan yang erat antara manajemen finansial dan kesejahteraan psikologis.
"Banyak pelajar merasa malu pergi ke sekolah lantaran berhutang pada rekan sebaya, apalagi biaya pangkal tahun digunakan untuk hal-hal konsumtif," kata Desi Irfiani, guru di SMK Dharma Patra seperti disampaikan kepada Sumut Pos, Rabu (25/6/2025).
Desi pun menambahkan bahwa sampai saat ini belum terdapat pelatihan pendidikan keuangan secara resmi di sekolah-sekolah. "Dengan melalui sesi-sesi edukasi yang bersifat interaktif, para murid diajarkan untuk mulai memahami betapa pentingnya pencatatan pengeluaran, membeda-beda antara keperluan dan kemauan, serta membiasakan diri menyimpan sebagian uang sebagai tabungan darurat," jelas Desi.
“Tak kalah penting, mereka juga belajar bagaimana stres akibat masalah keuangan bisa memengaruhi konsentrasi belajar dan kepercayaan diri,” imbuhnya.
Dosen pembimbing kegiatan Marlya Fatira AK menyatakan bahwa sebelum dilakukan latihan, baru 52% siswa yang biasanya membuat catatan rinci tentang pengeluarannya. Lebih dari setengah jumlah tersebut bahkan mengungkapkan jika pemasukan mereka kerapkali tak cukup untuk menutupi biaya hidup. "Oleh karena itu, tidak mengherankan bila 41% di antara para murid ini menderita masalah kesejahteraan emosi seperti cemas berkepanjangan, kesulitan tidur, dan hilang minat dalam proses belajar," paparnya.
Setelah mengikuti sesi pendidikan, kata Marlya, perubahannya cukup besar. Dengan persentase tinggi hingga 86%, para siswa mulai menerapkan perilaku keuangan yang baik dengan mencatat pengeluaran mereka, menyimpan uang secara rutin, serta berbelanja dengan bijaksana. Lebih dari itu, sampai 94% siswa merasakan kenyamanan mental yang meningkat, mendapatkan motivasi tambahan, dan dapat berkonsentrasi pada pelajaran karena telah membuat rancangan keuangan yang jelas bagi dirinya sendiri.
"Merancang keuangan tidak sekadar mencatat pemasukan dan pengeluaran. Ini merupakan fondasi dalam mengembangkan sifat kemandirian dan tanggung jawab sejak usia muda," jelas Marlya.
Acara ini menerima sambutan hangat dari pihak sekolah. Ketua Sekolah serta para guru menginginkan agar aktivitas semacam itu dapat diselenggarakan secara berkala dan dimasukkan sebagai elemen dalam kurikulum tambahan, khususnya untuk murid-murid yang fokus pada bidang bisnis dan akuntansi.
Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian, kegiatan ini menjadi bukti bahwa membangun kebiasaan keuangan yang sehat bisa dimulai dari sekolah dan dampaknya bukan hanya pada dompet, tetapi juga pada kualitas hidup dan pendidikan remaja. (rel/adz)
Anda telah membaca artikel dengan judul Remaja SMK Dharma Patra: Mengatur Keuangan sambil Menjaga Kesehatan Mental. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.
Gabung dalam percakapan