Kaweden MY.ID adalah situs tempat berbagi informasi terkini. Berita dalam negeri kunjungi situs RUANG BACA. Untuk berita luar negeri kunjungi DJOGDJANEWS

Kesadaran akan Kesehatan Mental: Mengapa Ini Sangat Penting

Hayail Umroh SPsi MSi , Guru Bidang Studi Psikologi Keluarga serta Perwakilan Kesadaran Kesehatan Jiwa Dandiah

PERSENTASE Kasus bunuh diri menunjukkan variasi sesuai dengan hasil studi. Secara umum, melebihi separuh jumlah kasus bunuh diri tercatat pada mereka yang sedang menghadapi depresi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 700 ribu jiwa kehilangan nyawa akibat tindakan ini tiap tahunnya, dengan depresi jadi penyumbang risikonya. Gangguan kesehatan mental bernama depresi adalah kondisi yang parah dan tak boleh disalahartikan hanya sebatas rasa sedih biasa. Dukungan dari keluarga serta komunitas memainkan peranan penting untuk melawan potensi resiko tersebut bagi penderita depresi. Oleh karena itu, tampaknya wajar jika semua orang harus mendapatkan pemahaman dasar soal depresi dan aspek-aspek lain dari kesehatan mental.

Dalam aktivitas sehari-hari, kesehatan umumnya dilihat hanya dari segi fisik saja, sedangkan kesehatan mental sering dilupakan atau malahan dianggap topik sensitif untuk dibahas. Sebenarnya, kesehatan mental memegang peranan sangat signifikan dalam mendefinisikan tingkat kenyamanan hidup seseorang. Masalah-masalah psikis semacam tekanan, cemas berlebihan, serta depresi tidak sekadar masalah pribadi, melainkan juga punya pengaruh besar pada anggota keluarga, tempat kerja, sampai dinamika interaksi sosial dalam masyarakat.

Sekuat apapun usaha kita, kesalahan pengertian tetap saja ada dalam kalangan publik. Misalkan adanya pemikiran jika seseorang mengidap gangguan jiwa dikarenakan ketidakpercayaannya pada agama atau hanyalah akibat dari karakter lemah si pasien sendiri. Stereotip tersebut menyebabkan sebagian orang ragu untuk menemui bantuan profesional, sehingga situasi yang dialami menjadi lebih buruk lagi.

Sebenarnya, kesehatan mental adalah elemen yang rumit; hal ini dipengaruhi oleh banyak unsur termasuk sisi biologi, psikologi, serta aspek sosial, dan tentu saja bukan hanya bagian spiritualnya.

Diupayakan agar masyarakat menjadi lebih terbuka dalam menghadapi dan merespons beragam tantangan psikologis, serta langkah ini akan efektif apabila dilakukan mulai dari lingkaran keluarga karena keluarga memiliki peranan utama dalam melindungi dan mensupport kesejahteraan mental semua anggota keluarganya.

Sebagai lingkungan awal di mana individu bertumbuh dan berkembang, keluarga bisa berperan sebagai penyokong kuat seiring juga dengan potensi risiko untuk kesejahteraan mental. Komunikasi yang transparan, dukungan emosi yang stabil, serta perawatan yang penuh kasih akan mendukung dalam pembentukan ketahanan psikologi pada anak-anak maupun anggota keluarga lainnya.

Sebaliknya, lingkungan rumah yang penuh dengan tekanan, ketidakpedulian, serta adanya konflik bisa menaikkan kemungkinan terkena stres, cemas hingga depresi. Banyak di antara kondisi jiwa yang bermasalah biasanya tak datang begitu saja, tapi berproses dari penumpukan pengalaman negatif yang dialami individu sejak usia masih sangat muda.

Memupuk pemahaman akan kesejahteraan jiwa dalam rumah tangga bisa dilakukan dengan mendirikan suasana yang bebas dari tekanan emosi, sehingga seluruh bagian keluarga merasa terbuka untuk bercerita dan dipeduli tanpa rasa khawatir dikritik. Ayah bunda harus sadar betapa besarnya pengertian belas kasihan saat bereaksi atas perasaan orang lain di sekitar mereka, bersama-sama membentuk momen-momen bernilai tinggi demi mengeraskan ikatan hati. Tambahan pula, prinsip-prinsip rohani sanggup jadi fondasi yang tenang, tidak digunakan sebagai senjata untuk menjebloskan tetapi lebih kepada sumbangsih energi positif dan sinergi optimisme dalam menghadap situasi-situasi psikiatri.

Dampak tidak peduli

Tidak peduli terhadap signifikansi dari kesejahteraan psikologis bisa menyebabkan bermacam-masalah bagi individu tersebut, misalnya peningkatan disfungsi mental semacam tekanan dan ketegangan yang berujung pada depresi. Tanpa penguasaan konsep kesehatan mental secara cukup, orang itu mungkin melihat situasi mereka sebagai sesuatu yang biasa hingga suatu saat dia mulai merasa lelah karena seluruh beban stressor cemasannya, perasaan sedih, maupun rasa bersalah.

Segera merasa kurang bersemangat dalam menjalani aktivitas apapun, kesulitan fokus, serta mengalami masalah dengan pola tidurnya. Ia juga mulai menunjukkan penurunan antusiasme terhadap rutinitas hariannya. Kondisi tersebut turut mempengaruhi kondisi fisiknya melalui munculnya beberapa keluhan seperti gangguan pencernaan, hipertensi atau tekanan darah tinggi, migrain yang seringkali datang, hingga risiko lebih besar untuk terserang penyakit jantung ataupun kanker. Selain itu, hubungan di lingkaran keluarganya ikut terdampak dan bisa menciptakan situasi konflik akibat dari pemahaman yang salah satu sama lain.

Anggota keluarga yang mengidap depresi bisa salah dipersepsikan sebagai individu yang malas atau kurang bersyukur, jarang melakukan ibadah, dan menjauhi Tuhan. Apabila kedua orang tuanya tidak mempunyai pengetahuan tentang manajemen emosi—yang amat esensial bagi proses parenting—they cenderung menggunakan metode pengasuhan yang merugikan dengan sikap tegas hingga kekerasan emosional. Hal tersebut tentunya dapat menciderai kualitas hidup mereka. Lebih parah lagi apabila situasi semakin sulit dan timbul rasa putus asa, resikonya adalah meningkatnya potensi untuk melaksanakan bunuh diri.

Banyak individu meyakini bahwa seseorang menderita depresi disebabkan oleh ketidaktahannya dalam beriman. Pendapat tersebut justru sangat mengecilkan masalah dan bisa semakin merugikan penderitanya. Sebenarnya, depresi merupakan suatu kondisi medis, tidak hanya soal persoalan agama saja. Ini adalah sebuah kondisi mental rumit yang dipengaruhi oleh beberapa aspek termasuk komponen biologi, psikologi, sosial, rohani serta situasi lingkungannya sendiri-sendiri. Berbagai hal dapat menjadi akar permasalahannya, misalkan seperti ketimpangan zat kimia pada otak (seperti oksitosin dan dopamin), pengalaman traumatis, stress intens, beban social, bahkan warisan genetika juga memiliki dampak. Bahkan jika sudah taat beragama, seseorang tetap rentan mengalamai "meltdown" mental, sama seperti mereka masih bisa terserang penyakit fisik seperti diabetes atau hipertensi.

Sepanjang sejarah Islam, terdapat berbagai tokoh shaleh yang merasakan kesedihan dalam hidupnya meski tetap dekat pada Tuhan. Sebagaimana halnya Nabi Ya'qub AS, yang begitu sedih hingga akhirnya buta matahari (matanya menjadi putih) dikarenakan air mata atas hilangnya Nabi Yusuf AS. Peristiwa tersebut diceritakan dalam surat Al-Quran QS. Yusuf ayat 84. Sedangkan Rasulullah Saw pernah juga menjalani masa tahun yang dipenuhi oleh rintangan dan cobaan (Aamul Huzn), khususnya saat ia harus kehilangan sang istri Khadijah serta wali karomanya Abu Thalib. Ini membuktikan bahwa kesedihan mendalam tidak selalu mencerminkan rendahnya tingkat keyakinan, namun justru merupakan aspek alami bagi manusia itu sendiri.

Stigma "Kurang Iman" malah dapat menghalangi proses penyembuhan individu tersebut. Ketika seseorang dengan gangguan depresi diinformasikan bahwa dia kurang beriman, hal itu dapat membuat perasaannya semakin bersalah dan tertekan. Orang yang sebenarnya memerlukan dukungan profesional pun mungkin ragu-ragu untuk mencari pertolongan karena merasa persoalan mereka hanyalah urusan rohani belaka. Namun demikian, mereka tetap butuh pendengar simpatetis serta pengetahuan tentang bagaimana agar terhindar dari tindakan-tindakan yang bertentangan dengan keinginan Tuhan.

Dalam agama Islam, usaha untuk menemukan pengobatan bagi penyakit adalah suatu kewajiban dan dapat memberikan pahala. Nabi Muhammad SAW pernah berkata, "Setiap penyakit memiliki obat..." (HR. Bukhari). Ini tentu saja meliputi kondisi gangguan jiwa. Cara salah satu penanganannya yaitu dengan bertemu individu-individu yang ahli dalam bidang kesehatan mental seperti psikolog atau psikiater, serta ustadz yang memahami aspek-aspek dari kesejahteraan emosional. Dengan demikian, masalah kesehatan mental tersebut mampu ditangani lewat gabungan antara terapi psikologi, pendekatan spiritual, dukungan komunitas, serta tindakan medis apabila dibutuhkan.

Dalam agama Islam, memelihara kesejahteraan jiwa memiliki bobot setara dengan menjaga kondisi tubuh secara fisik. Oleh karena itu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan seorang spesialis jika Anda atau anggota keluarga Anda merasakan tekanan emosional atau gangguan mental. Seperti halnya di beberapa negeri asing, profesi psikolog dan psikiater diperlakukan serupa dengan bidani medis umum; masyarakat telah melampaui rasa canggung saat menyambangi praktik tersebut, tanpa adanya cap negatif tentang pasien sebagai individu "gangguan jiwa", serta pemahaman bahwa pencarian pertolongan profesional bukanlah tanda dari kerentanan tetapi upaya proaktif terhadap stabilitas mental. Ini semua membuktikan bahwa pengetahuan mereka soal pentingnya menjaga keseimbangan pikiran cukup mendalam.

Untuk melindungi diri sendiri dan keluarga, mari kita pahami pentingnya mempertimbangkan kesejahteraan psikis untuk mencegah lebih banyak anggota keluarga seperti anak-anak mengambil tindakan putus asa akibat depresi.

Anda telah membaca artikel dengan judul Kesadaran akan Kesehatan Mental: Mengapa Ini Sangat Penting. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.

Lokasi Kaweden