Pertumbuhan Kredit Diperkirakan Melambat ke 8,8% YoY pada 2025
KMI Data dari analisis uang beredar Bank Indonesia (BI) mengindikasikan bahwa pertumbuhan kredit perbankan melemah di bulan April 2025. Hal ini sesuai dengan tren penurunan dalam penyaluran kredit ke sektor korporasi maupun konsumsi. Para ahli prediksi bahwa tingkat pertumbuhan kredit untuk tahun ini akan kurang dari 10 persen.
Bank Indonesia melaporkan bahwa jumlah penyaluran kredit di bulan April 2025 mencapai Rp 7.866,5 triliun. Pertumbuhan tersebut hanya sekitar 8,5% dibandingkan periode sama tahun lalu (year-on-year/YoY), mengalami perlambatan dari pertumbuhan 8,7% yang tercatat pada bulan sebelumnya. Menurut Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, Kamis (23/5), "Pertumbuhan ini didukung oleh pemberian kredit kepada korporasi yang naik 12,6%, dengan nilai total mencapai Rp 4.311,8 triliun."
Walaupun begitu, pertumbuhan kredit untuk badan usaha juga merosot sebesar 13,1% secara tahun-ke-tahun dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Berdasarkan fungsinya, pemberian kredit untuk modal kerja tercatat senilai Rp 3.412,5 triliun dan meningkat sebanyak 4,4% YoY. Angka ini lebih rendah jika kita bandingkan dengan kenaikan 6,2% yang dicatat pada Maret 2025 lalu.
Menurut penjelasannya, pertumbuhan kredit untuk modal kerja berasal dari berbagai sektor termasuk perbankan, properti, layanan perusahaan, serta manufaktur.
Sebaliknya, kredit investasi malah meningkat 15,3% secara tahun-ke-tahun (YoY) dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya 12,6% YoY. Jumlah disalurkannya tercatat senilai Rp 2.215,7 triliun. Kebanyakan diberikan kepada sektor pertambangan dan penggalian, transportasi, serta komunikasi.
Saat ini, pemberian kredit untuk keperluan konsumsi naik sebesar 8,9% secara tahun-ke-tahun (YoY). Hal ini sedikit lebih lambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat pertumbuhan sebesar 9,2% YoY. Peningkatan tersebut dipicu oleh lonjakan dalam kredit pemilikan rumah (KPR), kredit mobil (KKB), serta kredit multiguna.
Penyaluran kredit properti menunjukkan kinerja positif sebanyak Rp 1.434,2 triliun. Tumbuh sebesar 6,2 persen secara tahunan, meningkat dibandingkan pertumbuhan sebelumnya 5,9 persen YoY. "Terutama berasal dari peningkatan kredit KPR dan kredit pemilikan apartemen (KPA) sebesar 8,5 persen YoY, kredit real estate 8,1 persen YoY, serta kredit konstruksi tumbuh 0,6 persen YoY," jelas Ramdan.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede meramalkan pertumbuhan kredit hingga tahun 2025 akan mencapai 8,8% per tahun secara year-on-year (YoY). Angka ini berada di bawah perkiraan Bank Sentral yang berkisar antara 11-13%. Sementara itu, untuk tahun 2026, diperkirakan pertumbuhan kreditnya akan meningkat menjadi sekitar 9,36% YoY.
"Kondisi internasional berdampak pada ketertarikan para investor serta pengusaha dalam melakukan ekspansi. Hal tersebut nantinya akan mempengaruhi kebutuhan kredit sepanjang tahun ini," katanya.
Joshua menginginkan agar pihak berwenang dapat memberikan respons melalui kebijakan pajak yang lebih agresif serta bantuan keuangan terfokus. Melakukan hal tersebut akan mendorong konsumsi dan investasi dalam negeri untuk bangkit kembali.
Penurunan tingkat suku bunga dasar Bank Indonesia hingga 5,5% memberikan dampak yang menguntungkan bagi ekonomi dengan proses bertahap. Terutama hal itu dapat dirasakan lewat mekanisme penyebarannya di sektor perbankan serta industri nyata. Dia menjelaskan bahwa dalam periode singkat, langkah tersebut bakal meringankan beban pinjaman interbank (PUAB), sehingga merendahkan tarif simpanan dan pada gilirannya memperkecil suku bunga kredit.
Anda telah membaca artikel dengan judul Pertumbuhan Kredit Diperkirakan Melambat ke 8,8% YoY pada 2025. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.
Gabung dalam percakapan