Menurut Psikologi: 8 Cara Gen Z Merawat Kesehatan Mental, Apa Saja?
KMI NEWS - Generasi Z terdiri dari orang-orang yang dilahirkan antara tahun 1997 hingga 2012. Mereka dikenali erat dengan kesadaran mengenai kesejahteraan mental.
Menurut informasi yang dikutip dari situs Halodoc pada hari Rabu (14/05), generasi Z juga dipandang rawan mengalami masalah kesehatan mental akibat paparan media sosial yang berkelanjutan. Di platform tersebut, banyak orang memamerkan prestasi mereka, menyebabkan anggota generasi Z sering kali merasa cemas dan khawatir tentang masa depannya.
Menurut penelitian dari American Psychological Association (Antara lain), sekitar 91% Generasi Z menyatakan telah mengalami paling tidak satu tanda fisik maupun emosional dari tekanan stres. Sebagai contoh, hal ini bisa berupa rasa cemas atau murung, hilangnya ketertarikan, dorongan, ataupun semangat hidup.
Menurut artikel di Blog Herald pada hari Rabu (14/05), berikut adalah delapan langkah yang sering digunakan Generasi Z untuk menjaga kesehatan mental mereka:
1. Percakapan terbuka
Dalam banyak lingkungan, masalah kesehatan mental tetaplah suatu hal yang terlarang untuk diperbincangkan, sering kali disebutkan dalam bisikan atau bahkan dielakkan sepenuhnya, namun generasi Z memiliki pandangan yang berbeda.
Dengan gagah mereka mengangkat pembicaraan tentang kesehatan jiwa ke dalam dialog sehari-hari, baik pada level personal maupun melalui media publik.
Kebebasan ini menghasilkan pergeseran signifikan pada bagaimana pendekatan terhadap dan persepsi tentang kesehatan mental berlangsung.
Hal itu membantu melenyapkan prasangka dan menjadikan proses pencarian dukungan menjadi lebih sederhana saat dibutuhkan. Para ahli psikologi menyatakan bahwa ini merupakan langkah signifikan menuju perbaikan.
Dengan menggerakan diskusi terbuka mengenai kesejahteraan mental, Gen Z telah menjadikannya sebuah fokus utama dan mempersiapkan jalur untuk generasi mendatang yang lebih sehat secara psikis.
2. Memprioritaskan perawatan diri
Apabila terdapat satu aspek yang menonjol mengenai Generasi Z, maka itu adalah prioritas tinggi mereka terhadap kesejahteraan pribadi. Bagi generasi ini, aktivitas tersebut merupakan elemen esensial dalam rutinitas harian dan tidak dianggap sebagai fasilitas mewah lagi.
Para psikolog sepakat bahwa penekanan terhadap perawatan diri merupakan salah satu poin penting yang dipegang erat oleh generasi Z dalam mengutamakan kesejahteraan mental mereka.
3. Merangkul terapi
Meskipun generasi yang lebih senior mungkin menganggap terapi hanya sebagai opsi untuk kondisi kejiwaan yang serius, gen Z justru menulis ulang skenario tersebut.
Mereka menyertakan terapi sebagai sarana untuk menjaga kesejahteraan mental secara umum, tidak sekadar jawaban ketika sedang dalam masalah besar. Terapi bagi mereka adalah tindakan preventif untuk meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri serta mengatur kondisi kejiwaannya.
4. Cerdas digital
Generasi Z merupakan kelompok pertama yang berkembang bersama teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Kepiawaian mereka di dunia maya digunakan untuk menggali berbagai sumber daya serta informasi seputar kesejahteraan mental lewat internet.
Mereka mengaplikasikan software untuk latihan relaksasi, turut serta pada pertemuan perawatan virtual, serta ikut gabungan komunitas dukungan maya. Situs web tersebut memberikan kerahasiaan, kemudahan dijangkau, dan ketenangan yang biasanya tak bisa diberikan cara-cara konvensional.
Tapi ini bukan hanya tentang mengakses sumber daya. Mereka juga menggunakan media sosial untuk meningkatkan kesadaran, berbagi pengalaman, dan menumbuhkan rasa kebersamaan seputar masalah kesehatan mental.
5. Empati dan pengertian
Mereka tak sekadar memberikan simpati, melainkan empati. Tak cukup hanya mendengar, mereka justru benar-benar mendengarkan. Mereka pun menyadari bahwa pertempuran dengan masalah kesehatan mental bukan merupakan indikasi lemah, akan tetapi sebagian dari pengalaman hidup manusia.
Mereka dengan sigap memberikan bantuan kepada sahabat-sahabat yang tengah menghadapi kesulitan, serta tidak ragu-ragu saat harus meminta pertolongan ketika merasa tersungkur. Rasa simpati dan pemahaman seperti itu membentuk lingkungan terbuka, tempat boleh jadi kurang baik-baik saja.
5. Memahami betapa vitalnya edukasi tentang kesehatan jiwa
Generasi Z mendorong agar pendidikan kesehatan jiwa diperkenalkan sebagai bagian dari program studi sekolah. Mereka menyadari bahwa ilmu pengetahuan merupakan senjata yang ampuh, dan melalui proses belajar mandiri serta bersama-sama tentang pentingnya kesejahteraan psikologis, diharapkan bisa meningkatkan pemahaman dan pengendalian terhadap perasaan mereka.
Inisiatif pengajaran tentang kesadaran kesehatan mental ini mencerminkan tekad generasi Z dalam menghadirkan transformasi persisten dan bermanfaat terkait bagaimana kita memandang serta merawat kondisi kejiwaan.
7. Mengadvokasi kesehatan mental
Generasi Z bukan saja berfokus pada pemeliharaan kesehatan mental diri mereka sendiri, tetapi juga aktif mempromosikan transformasi pada tingkat global. Anggota generasi ini memakai hak bicaranya serta sarana yang tersedia untuk mendesak adanya kebijakan dan alokasi sumber daya terhadap kesehatan mental yang lebih efektif di lingkungan pendidikan, pekerjaan, dan masyarakat sekitarnya.
Mereka mendesak pentingnya kesehatan mental setara dengan kesehatan jasmani, mendorong peningkatan cakupan asuransi untuk layanan perawatan kesehatan, serta mempromosikan opsi terapi yang lebih dapat dijangkau dan tersedia bagi semua orang.
Dengan berdiri dan berbicara, generasi Z mendorong transformasi sosial dan politik yang bisa memberikan manfaat besar bagi pelayanan kesehatan jiwa.
8. Menormalkan kerentanan
Perubahan terpenting yang dibawa generasi Z dalam bidang kesehatan mental mungkin adalah penghargaan pada sifat rentan manusia sebagai sesuatu yang biasa. Mereka menyadari bahwa mengakuinya dan berusaha untuk membantu diri sendiri tidak menunjukkan lemah, melainkan justru merupakan hal positif.
Mereka tanpa rasa takut membagikan pertarungan serta pencapaian mereka, bersedia menanyakan dukungan saat dibutuhkan, ataupun menerima bahwa ada kalanya kondisi mereka kurang baik. Gaya pendekatan yang transparan dan tulus tersebut telah merombak persepsi kami tentang kesejahteraan psikis serta keadaan rentannya seseorang.
Perubahan ini bukan hanya menguntungkan generasi Z, tapi juga setiap individu. Hal tersebut menciptakan jalur menuju masa depan tempat pertempuran melawan masalah kesehatan mental didasari oleh pengertian serta dukungan, dibandingkan hukuman sosial atau stereotip.
Secara mendasar, walaupun generasi Z diketahui lebih rawan mengalami masalah kesehatan mental, namun mereka juga lah yang membawa pemahaman segar tentang topik ini.
Anda telah membaca artikel dengan judul Menurut Psikologi: 8 Cara Gen Z Merawat Kesehatan Mental, Apa Saja?. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.
Gabung dalam percakapan