Kaweden MY.ID adalah situs tempat berbagi informasi terkini. Berita dalam negeri kunjungi situs RUANG BACA. Untuk berita luar negeri kunjungi DJOGDJANEWS

Flexing di Media Sosial: Tampak Mewah, Tapi Ada Bahaya di Baliknya

Flexing di Media Sosial: Tampak Mewah, Tapi Ada Bahaya di Baliknya

CHANELSULSEL.COM- Dalam beberapa tahun terakhir, budaya flexing atau perilaku memamerkan kekayaan dan pencapaian pribadi di media sosial semakin menonjol.

Fenomena ini tidak hanya muncul di kalangan figur publik atau influencer, tetapi juga merambah pengguna biasa yang ingin menampilkan citra tertentu di ruang digital.

Meningkatnya kecenderungan ini menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai motivasi di baliknya serta dampak yang ditimbulkan bagi individu maupun masyarakat.

Media Sosial sebagai Sarana Pencarian Pengakuan

Media sosial pada mulanya hadir sebagai platform berbagi. Namun, perkembangan teknologi dan interaksi yang semakin cepat menjadikan platform ini ruang validasi sosial.

Setiap unggahan yang mendapat respons tinggi berupa tanda suka, komentar, atau jumlah tayangan sering dipandang sebagai simbol penerimaan dari lingkungan digital.

Psikolog sosial menilai, kecenderungan flexing tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan pengguna akan pengakuan.

Bentuk validasi tersebut mendorong individu menampilkan sisi terbaik dari dirinya, meskipun tidak selalu sejalan dengan kondisi nyata.

Perbandingan Sosial dan Tekanan Simbolik

Fenomena perbandingan sosial menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya budaya flexing. Arus unggahan yang memperlihatkan gaya hidup mewah, pencapaian akademik, atau keberhasilan karier memunculkan tekanan tidak langsung bagi pengguna lain.

Perasaan tertinggal atau kalah bersaing sering membuat individu merasa perlu menampilkan citra serupa untuk menjaga posisi sosialnya.

Efek Fear of Missing Out (FOMO) ikut memperkuat hal tersebut.

Banyak pengguna merasa harus terlibat dalam tren tertentu, termasuk memamerkan fasilitas yang dimiliki, agar tetap relevan di mata lingkungan digital.

Peran Algoritma dalam Mendorong Perilaku Flexing

Sistem algoritma pada berbagai platform media sosial juga turut menyuburkan budaya ini. Konten dengan visual mencolok, dramatis, atau menampilkan kemewahan cenderung mendapatkan jangkauan lebih luas.

Hal tersebut membuat konten flexing lebih mudah tampil di halaman utama pengguna lain, sehingga semakin banyak orang terdorong melakukan hal serupa.

Pengamat media menuturkan bahwa algoritma memberi penghargaan terhadap konten yang memancing perhatian.

Alhasil, flexing dapat menjadi strategi efektif bagi sebagian pengguna untuk mempertahankan visibilitas atau meningkatkan jumlah pengikut.

Dampak Psikologis dan Sosial

Fenomena flexing tidak lepas dari risiko psikologis. Kebiasaan membandingkan diri dengan unggahan orang lain berpotensi memicu kecemasan, tekanan emosional, hingga penurunan rasa percaya diri.

Pada pengguna muda, kondisi ini dapat mengganggu pembentukan identitas diri dan persepsi terhadap nilai kesuksesan.

Selain itu, budaya pamer juga berimplikasi pada hubungan sosial. Interaksi yang semestinya bersifat tulus dapat bergeser menjadi hubungan yang bersifat kompetitif.

Keadaan ini dapat menciptakan jarak di antara individu, terutama ketika flexing dilakukan secara berlebihan.

Konsekuensi Finansial

Di luar dampak psikologis, flexing dapat menimbulkan tekanan finansial. Tidak jarang individu melakukan pembelian impulsif atau mengambil utang demi menampilkan gaya hidup yang tidak sebanding dengan kemampuan ekonomi.

Penggunaan layanan paylater atau cicilan barang mewah semakin meningkat, terutama di kalangan pengguna yang ingin mempertahankan citra tertentu di media sosial.

Ekonom perilaku mengingatkan bahwa konsumsi semacam ini termasuk konsumsi simbolik, yakni pembelian barang bukan untuk memenuhi kebutuhan, melainkan untuk menunjukkan status sosial.

Meningkatkan Literasi Digital dan Kesadaran Diri

Menghadapi derasnya budaya flexing, para pakar mendorong pentingnya literasi digital. Pengguna media sosial diharapkan mampu memahami bahwa konten yang tampil di linimasa bukan gambaran utuh kehidupan seseorang.

Pemilahan dalam mengonsumsi konten, pengelolaan keuangan, serta kemampuan mengendalikan dorongan membandingkan diri menjadi langkah penting dalam meminimalkan dampak buruk budaya tersebut.

Selain itu, sikap autentik dalam membangun identitas digital juga dinilai penting. Kejujuran dalam menampilkan diri dapat mengurangi tekanan sosial dan membantu menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat.

Budaya flexing di media sosial merupakan fenomena yang berkembang seiring pesatnya dinamika dunia digital.

Meski tidak seluruhnya negatif, perilaku ini menuntut kehati-hatian dalam memahami motivasi dan dampaknya.

Pengguna diharapkan mampu mengelola diri dengan lebih bijak agar tidak terjebak dalam tekanan sosial yang tidak perlu.

Pada akhirnya, kebermaknaan hidup tidak ditentukan oleh seberapa banyak hal yang dipamerkan, melainkan oleh kualitas kehidupan yang dijalani jauh dari sorotan publik.***

 

Disclaimer: Artikel ini dibuat dengan bantuan AI ChatGPT yang dimodifikasi oleh editor manusia untuk kenyamanan pembaca.

Anda telah membaca artikel dengan judul Flexing di Media Sosial: Tampak Mewah, Tapi Ada Bahaya di Baliknya. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.