Studi Ungkap: Debu Bulan Lebih Ramah Kesehatan daripada Polusi Udara Kota
RB NEWS , Jakarta - Sebuah studi baru menunjukkan bahwa debu Bulan bisa saja kurang berbahaya daripada yang selama ini dipikirkan. Penelitian yang dijalankan oleh grup peneliti dari University of Technology Sydney menunjukkan hasil tersebut. Paparan polusi udara Di jalan raya di kawasan urban yang ramai memiliki tingkat polusi yang lebih tinggi daripada menghirup debu dari Bulan.
"Temuan ini menguatkan fondasi keamanan untuk misi kembali manusia ke Bulan," ungkap Brian Oliver, Professor Honoris Causa Biologi di Universitas Teknologi Sydney, dalam pernyataan tertulis yang dilansir dari laporannya. Space , 23 Juni 2025.
Kecemasan mengenai dampak berbahaya dari debu bulanan timbul untuk pertama kalinya selama misi Apollo. Debu tersebut memiliki muatan listrik stasioner yang membuatnya melekat pada seragam ruang angkasawan. Ketika para astronot kembali ke kapsul pendaratan, debu ini pun turut diboyong kedalam, menjadikannya bagian dari partikel udara di kokpit sekaligus dapat tertelan atau terhirup.
Keadaan tersebut memicu masalah pernafasan yang bertahan kira-kira 24 jam. Astronot Apollo 17, Harrison Schmitt, mendeskripsikan tanda-tandanya sebagai "demam rumput liar lunar"—mengalami iritasi di mata, batuk, serta nyeri pada tenggorokan.
Di Bumi, para dokter penerbangan Apollo mengalami fenomena yang sama ketika mencopot baju antariksa bekas misi mereka. Fenomena tersebut semakin menjadi-jadi pada setiap misi berturut-turut, menandakan bahwa paparan berkelanjutan bisa memperparah dampak debu bulanan.
Akan tetapi, bukti itu belum cukup kuat karena bersifat hanya anekdot. Agar bisa mendapat informasi yang lebih tepat dan dapat dipercaya, Michaela Smith, seorang doctoral student pada Respiratory Research Group dari institusi yang sama, menjalankan suatu penelitian dengan memakai dua tipe "lunar simulant" atau simulasi debu bulanan sebagai sampel.
Simulat ini menggambarkan sifat debu yang ditemukan di daerah dataran rendah berbentuk gunung berapi serta area dataran tinggi bulan, dengan diameter butirannya kurang dari 2,5 mikromilimeter—sehingga cukup halus untuk mencapai jalur pernapasan bagian dalam tubuh manusia.
Smith mengungkapkan dua tipe sel paru — yaitu sel bronkial dan sel alveolar — yang dipaparkan pada debu bulan buatan itu, lalu dibandingkan dengan eksposur terhadap partikel polutan udara yang diambil dari jalanan ramai di Sydney.
Hasil temuan yang telah dipublikasikan dalam jurnal Life Sciences in Space Research Ini juga membuktikan bahwa walaupun debu Bulan masih dapat menyebabkan iritasi pada paru-paru akibat bentuknya yang tajam dan tak teratur, pengaruhnya jauh lebih rendah daripada polutan di atmosfer perkotaan.
“Penting untuk membedakan antara iritan fisik dan zat yang sangat toksik,” kata Smith. “Temuan kami menunjukkan bahwa meskipun debu Bulan bisa menyebabkan iritasi langsung pada saluran pernapasan, tampaknya ia tidak menimbulkan risiko penyakit kronis jangka panjang seperti silikosis, yang disebabkan oleh bahan seperti debu silika.”
Temuan ini disebut menjadi kabar baik bagi NASA yang tengah mempersiapkan misi Artemis 3—misi pertama sejak 1972 yang akan mengirim manusia kembali ke permukaan Bulan. NASA tetap mengantisipasi risiko kesehatan dari debu Bulan dengan berbagai strategi, seperti merancang pakaian luar angkasa yang dipasang di luar modul pendarat dan menghindari debu terbawa masuk kabin lewat sistem ruang kedap udara.
Anda telah membaca artikel dengan judul Studi Ungkap: Debu Bulan Lebih Ramah Kesehatan daripada Polusi Udara Kota. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.
Gabung dalam percakapan