Hari Kedua NGO Connect 2025: NGO Harus Menata Ulang Arah, Kepatuhan dan Inovasi

Sentul, Bogor (15/11) --- Hari kedua NGO Connect 2025 menjadi ruang belajar yang kaya bagi para pelaku lembaga sosial. Bukan sekadar rangkaian talkshow, tetapi ajang yang mendorong NGO untuk menata ulang cara berpikir, memperkuat kapasitas, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan baru di dunia filantropi Indonesia. Di tengah dinamika masyarakat yang cepat berubah, forum ini terasa seperti cermin besar yang memperlihatkan apa yang sudah, sedang, dan belum dilakukan lembaga sosial secara optimal.
Sesi pertama dibuka oleh Rizal Algamar, Ketua Badan Pengurus Perhimpunan Filantropi Indonesia, bersama Mira Riyati Kurniasih, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial RI. Keduanya menegaskan bahwa persoalan kemiskinan ekstrem tidak dapat ditangani secara parsial. Kolaborasi harus menjadi budaya, bukan slogan. NGO perlu memahami batas dan kekuatan masing-masing, lalu membangun sinergi dengan lembaga lain agar intervensi sosial tidak berjalan sendiri-sendiri. Penekanan pada penggunaan data juga menjadi sorotan penting---bahwa program sosial yang tidak berbasis analisis kebutuhan hanya berpotensi menghabiskan energi tanpa menghasilkan perubahan signifikan.
Materi beralih pada isu kepatuhan regulasi. H. Irvan Nugraha, CEO Rumah Zakat, dan Istata Luqman, Government Relations Manager Kitabisa, yang pada hari itu turut hadir sebagai pemateri, menggarisbawahi bahwa masih banyak NGO yang berdiri tanpa memahami kerangka hukum yang mengatur lembaga sosial. Kondisi ini bukan hanya berisiko bagi lembaga, tetapi juga bagi masyarakat yang dilayani. Kepatuhan dan tata kelola adalah syarat mendasar untuk memperoleh kepercayaan publik. Profesionalitas, menurut para pemateri, tidak cukup dibangun dengan niat baik---dibutuhkan sistem, standar, dan disiplin organisasi.
Sesi ketiga menghadirkan perspektif yang lebih teknis dan terukur melalui paparan Saskia Tjokro, Director of Advisory ANGIN Foundation, Dian A. Purbasari, Executive Director Bakti Barito Foundation, dan Farah Sofa, Program Officer Ford Foundation. Ketiga tokoh ini menekankan bahwa dunia filantropi kini bergerak ke arah yang jauh lebih akuntabel. Donatur, terutama donor institusional, membutuhkan bukti dampak yang bisa diverifikasi, bukan sekadar narasi. Karena itu, lembaga sosial harus memahami Theory of Change, menyusun baseline yang tepat, dan mulai mengadopsi pendekatan Social Return on Investment (SROI) untuk menampilkan angka yang mencerminkan nilai sosial dari setiap program.
Sesi keempat memberikan warna berbeda lewat pemikiran Prof. Rhenald Kasali, Ph.D., Director of ESG Association of Indonesia, Guru Besar FEB UI, Founder Rumah Perubahan. Melalui pemaparannya yang penuh energi, ia mengajak NGO untuk berani berinovasi. Dunia bergerak cepat, dan lembaga sosial tidak boleh terjebak pada pola lama yang statis. Prof. Rhenald mendorong NGO untuk membuka diri pada model pendanaan yang lebih kreatif, seperti social enterprise, agar keberlanjutan program tidak semata bergantung pada donasi. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat identitas lembaga---bahwa suara yang kredibel harus hadir dari pihak yang benar-benar memahami isu, bukan dari mereka yang hanya bising dalam ruang publik.
Selanjutnya, Mahdar Hamdani, ImpactLeap Manager Kitabisa, memperkenalkan teknologi ImpactLeap sebagai bagian dari upaya modernisasi proses pengukuran dampak. Sistem ini memungkinkan lembaga sosial menghitung SROI dengan lebih cepat, memetakan data program, dan menyajikan laporan yang lebih rapi. Teknologi semacam ini dianggap penting di era ketika transparansi bukan lagi pilihan, tetapi tuntutan publik.
Forum hari kedua ditutup dengan sesi Focus Group Discussion (FGD) yang mengangkat lima tema strategis: Sustainable Funding, Sustainable Program & Impact, Compliance & Governance, Organization Capability Management, dan Partnership & Ecosystem Engagement. Diskusi berlangsung intens, dan setiap kelompok menghasilkan gagasan yang menunjukkan bahwa NGO Indonesia sedang memasuki fase transformasi baru---fase di mana kapasitas organisasi harus naik kelas seiring meningkatnya harapan masyarakat.
Anda telah membaca artikel dengan judul Hari Kedua NGO Connect 2025: NGO Harus Menata Ulang Arah, Kepatuhan dan Inovasi. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.
Gabung dalam percakapan