Kaweden MY.ID adalah situs tempat berbagi informasi terkini. Berita dalam negeri kunjungi situs RUANG BACA. Untuk berita luar negeri kunjungi DJOGDJANEWS

Dosen ITB: Nuklir Berpotensi Dikembangkan Jadi Sumber Listrik, Jangan Ada Pikiran Ada Nuklir Seperti Bom

PIKIRAN RAKYAT - Kolaborasi antara akademisi dan swasta menjadi penting dalam mendorong kemandirian bangsa di bidang energi. 

Pasalnya, saat ini dunia sedang bergerak untuk mengurangi emisi karbon dioksida (CO2). 

Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran Institut Teknologi Bandung sekaligus dosen dari Kelompok Keahlian Teknik Metalurgi Prof Zulfiadi menjelaskan, saat ini batubara sebagai salah satu sumber energi listrik masih menjadi andalan. 

Akan tetapi, kemudian orang mulai mencari energi yang terbarukan (renewable).

Sebut saja, menggunakan matahari dan angin. Akan tetapi, masalahnya angin tidak selalu ada, begitu pula matahari.

"Nuklir bisa menjadi energi yang terbarukan. Apalagi, nuklir juga tidak menghasilkan emisi CO2 dan bisa digunakan 24 jam 7 hari. Saat ini, negara maju seperti Amerika Serikat dan Rusia paling besar memproduksi listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN)," tutur Zulfiadi.

Hal ini disampaikan Zulfiadi sesuai penandatanganan perjanjian kerja sama antara ITB dengan PT Thorcon Power Indonesia dan PT Aimtopindo Nuansa Kimia di Kampus ITB, Jalan Ganesha, Kota Bandung, Selasa 28 Oktober 2025.

Menurut Zulfiadi, tak hanya AS dan Rusia, tapi juga Prancis dan Cina, sedangkan Indonesia belum punya PLTN. Padahal, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam, yaitu uranium dan torium di Pulau Bangka. 

Rencananya, kata Zulfiadi, Indonesia akan membangun PLTN pada 2030 mendatang. 

"Penggunaan nuklir sebagai sumber listrik bisa untuk jangka panjang. Soalnya, hanya dengan sekian gram, bisa menghasilkan energi, bandingkan dengan pengunaan batu bara yang mencapai ratusan ribu ton," kata Zulfiadi.

Zulfiadi menyebutkan, saat ini semua bergerak paralel, dari pemerintah, swasta, dan akademisi. Yang dikejar saat ini adalah memurnikan garam cair (molten salt) agar bisa menjadi pendingin dari pembangkit listrik. 

Zulfiadi menegaskan, riset dilakukan tanpa nuklir, sekarang maupun masa yang akan datang. Jangan sampai awam berpikir ada nuklir seperti bom. 

Soalnya, nuklir di sini berangkat dari garam cair sebagai media penyimpanan energi termal, bahan bakar, dan pendingin dalam reaktor nuklir jenis baru yang disebut reaktor garam cair. 

Dosen dari Kelompok Keahlian Rekayasa Katalisis dan Sistem Pemroses, Fakultas Teknik Industri (FTI) ITB Jenny Rizkiana, Ph.D. menjelaskan, penelitian tahap satu fokus pada pemurnian garamnya dan dalam skala kecil. Kemudian, tahap kedua skalanya dibesarkan dengan proses yang lebih besar.

"Penelitiannya terus berjalan dinamis. Tahap berikutnya adalah penggunaan radioaktifnya, karena saat ini belum, kemudian piloting skala besar. Setelah itu baru level implementasi," ucap Jenny. 

Harapannya, kata Jenny, ketika PLTN dibangun, Indonesia bukan sebagai pengguna, tapi berkontribusi juga di bidang teknologi pemurnian garam. 

Direktur Utama PT Aimtopindo Nuansa Kimia Setyo Yanus Sasongko mengatakan, bahwa hal yang harus ditindaklanjuti ialah memurnikan garam pada temperatur tinggi dengan hidrogen fluorida (HF). Pasalnya, proses tersebut sudah harus melibatkan aliran fluida panas.

Untuk itulah, keberadaan pilot plant menjadi hal yang mutlak. Tujuannya, agar dapat memahami perilaku sistem saat proses pemurnian maupun ketika dioperasikan nantinya.

"Jadi harus sama-sama, dari pendidikan dan swasta untuk kepentingan bangsa bersama. Bagaimana teknologi nuklir ini kita tidak hanya sebagai pengguna, tapi harus bisa mengolahnya untuk pengembangan teknologi," ujar Setyo. (*)

Anda telah membaca artikel dengan judul Dosen ITB: Nuklir Berpotensi Dikembangkan Jadi Sumber Listrik, Jangan Ada Pikiran Ada Nuklir Seperti Bom. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.