Kinerja Melemah Pada Paruh Pertama, Ini Strategi PRDA untuk Tahun 2025
KMI NEWS.CO.ID - JAKARTA. PT Prodia Widyahusada Tbk ( PRDA ) meraih performa yang tidak memuaskan pada semester pertama tahun 2025. Meskipun demikian, perusahaan sudah menyusun beberapa strategi untuk menghadapi tantangan bisnis hingga akhir tahun 2025.
Mengacu pada laporannya, Jumat (1/8), PRDA melaporkan penerimaan dari perjanjian dengan pelanggannya sebesar Rp 1,02 triliun, mengalami penurunan 0,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu Rp 1,03 triliun.
Di masa yang sama, PRDA mencatatkan keuntungan bersih senilai Rp 69,60 miliar, turun 40% dibandingkan tahun lalu yaitu Rp 115,52 miliar pada kuartal pertama 2024.
Kepala Bisnis dan Pemasaran PRDA, Indriyanti Rafi Sukmawati menjelaskan bahwa pihaknya senantiasa mengamati kemungkinan kendala dalam usaha, seperti fluktuasi kurs mata uang rupiah serta penundaan pendistribusian barang impor yang disebabkan oleh hambatan-logistik global.
Indriyanti mengatakan, salah satu prioritas utama perusahaan penyedia layanan laboratorium klinis ini adalah memperkuat suplai lokal melalui anak usaha mereka, Proline, yang mampu menciptakan reagen serta alat medis dengan rasio komponen dalam negeri (TKDN) di atas 40%. Kemampuan produksinya semakin berkembang, sehingga Proline akhirnya membuka pabrik baru seluas 9.690 meter persegi di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, pada bulan April 2025.
"Kami berharap Proline mampu mencakup lebih banyak laboratorium, rumah sakit, serta fasilitas kesehatan di seluruh Nusantara, terlebih dengan adanya peningkatan kapasitas produksi pada tahun ini," kata Indriyanti kepada KMI NEWS, Senin (21/7/2025).
Di samping itu, lanjut Indrayanti, PRDA mengambil pendekatan yang lebih terstruktur dengan merevisi kembali perjanjian kontrak bersama para penyedia layanan, mencari opsi mitra pasokan lainnya, dan meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan logistik dengan memanfaatkan teknologi digital. end to end .
Mendatang, PRDA tetap pesimis dengan perkembangan usaha mereka walaupun situasi pasar sedang berkembang secara cepat. Hal ini disebabkan oleh Indriyanti yang menyatakan bahwa permintaan atas jasa laboratorium relatif stabil dan masyarakat menurutnya mulai lebih memperhatikan kepentingan pemeriksaan awal serta penyesuaian layanan kesehatan sesuai kebutuhan individu.
Tahun ini, perseroan menarget peluncuran minimal 14 jenis tes baru. Salah satunya pemeriksaan esoterik. Kemudian di sisi operasional, PRDA kata Indriyanti akan terus meningkatkan utilisasi layanan klinik, memperbanyak titik pengambilan sampel ( point of collection /POC), serta memperluas kolaborasi dengan mitra rumah sakit dan perusahaan asuransi.
PRDA juga melihat, segmen B2B ( business to business ) menjadi peluang pengembangan usaha yang menjanjikan, termasuk kolaborasi perusahaan dalam program pemeriksaan kesehatan pegawai serta layanan kesehatan jangka panjang. Peningkatan kemudahan akses melalui platform digital, yaitu U by Prodia, tetap dioptimalkan oleh perusahaan tersebut.
Di samping itu, upaya PRDA untuk menjangkau kalangan masyarakat luas seperti para dokter maupun komunitas tetap dilakukan dengan berbagai program pendidikan kesehatan, antara lain melalui acara Prodia Healthy & Fun with Community yang diselenggarakan di sepuluh kota di seluruh Indonesia.
Selain itu, menurut Indriyanti, PRDA juga telah melaksanakan tindakan corporate dengan membeli 30% saham dari PT ProSTEM Indonesia. Sebagai tambahan informasi, ProSTEM adalah sebuah perusahaan yang beroperasi dalam bidang terapi regeneratif, khususnya dalam pengembangan sel punca.
"Kami yakin kerja sama ini akan meningkatkan posisi Prodia sebagai pemimpin dalam penyedia layanan diagnostik kesehatan terkemuka dan berkembang di Indonesia," tutup Indriyanti.
Anda telah membaca artikel dengan judul Kinerja Melemah Pada Paruh Pertama, Ini Strategi PRDA untuk Tahun 2025. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.
Gabung dalam percakapan