Kaweden MY.ID adalah situs tempat berbagi informasi terkini. Berita dalam negeri kunjungi situs RUANG BACA. Untuk berita luar negeri kunjungi DJOGDJANEWS

Cara Desa Goa Pindul Ubah Tanah Kering Jadi Hijau

Lahan kering dan kurang kesuburan pernah menyebabkan penduduk Desa Goa Pindul, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta terbatas dalam menanam umbi-umbian saja. Bertahun-tahun lamanya, masyarakat setempat bergantung pada gaplek atau singkong yang telah dipipihkan dan dikeringkan sebagai bahan makanan utama harian mereka.

Namun, penduduk Desa Goa Pindul mulai mengembangkan Rumah Pangan Hidup (RPH) sebagai upaya memanfaatkan area sekitar rumah untuk bercocok tanam sayuran dan buah-buahan. Sekarang, desa yang dahulunya kering telah berkembang menjadi sebuah daerah pariwisata yang menyediakan berbagai macam tanaman seperti sayur-mayur hingga buah-buahan. Setiap rumah memiliki lahan pertanian di bagian depan, samping, maupun belakang tempat tinggal mereka.

Setiap rumah di Desa Goa Pindul sekarang dilengkapi dengan kebun. Berbagai jenis tanaman konsumsi seperti cabai, terong, kangkung hingga mentimun ditanam oleh penduduk setempat. Mereka memanfaatkan alat budidaya yang didaur ulang, termasuk kaleng bekas, ban kendaraan serta botol plastik. Pupuknya juga berasal dari limbah organik berupa sisa makanan atau sampah pertanian yang tidak dipakai lagi lalu diolah menjadi... eco enzyme dan pupuk cair.

Kepala Rumah Pangan Hidup Desa Goa Pindul Ari Purnawan menyampaikan bahwa penggunaan lahan di sekitar rumah untuk bercocok tanam kini telah menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat setempat. Selain digunakan sebagai sumber pasokan keluarga, Ari berharap aktivitas tersebut bisa memancing perhatian para wisatawan yang tertarik belajar bertani secara langsung.

  • Menjejak Tradisi, Menemukan Kearifan di Desa Wisata Pentingsari

"Para pengunjung yang berkunjung ke obyek wisata Goa Pindul dapat kami ajak untuk bermain sekaligus belajar bercocok tanam di area persawahan milik RPH," kata Ari di Goa Pindul, Jumat (1/8).

Inisiatif RPH lahir sebagai respons atas keinginan untuk mengurangi biaya hidup harian penduduk. Penduduk diberdayakan untuk menumbuhkan bahan makanan sendiri guna memenuhi kebutuhan rumah tangga, sehingga tidak bergantung sepenuhnya kepada pasaran.

Desa Goa Pindul adalah desa yang menjadi target pembangunan dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication dan Tanggung Jawab Sosial BCA, menyampaikan bahwa program RPH dapat membantu mengurangi biaya kebutuhan harian keluarga sebesar hingga 50%.

"Dalam survei yang kami lakukan, sebelum adanya RPH, rata-rata sebuah keluarga mengeluarkan dana sebesar Rp 1,2 juta setiap bulannya untuk membeli bahan makanan. Namun setelah hadirnya RPH, biaya tersebut turun menjadi Rp 900 ribu," kata Hera.

Baginya, penghematan sebesar Rp 300 ribu tiap bulan bisa digunakan untuk keperluan yang lebih mendesak. Jumlah uang ini sama dengan pembayaran tagihan listrik selama tiga bulan, biaya pendidikan anak SD dalam waktu satu bulan, atau ongkos bahan bakar minyak selama 1,5 bulan.

Selain sayur-mayur, warga juga mulai mengembangkan peternakan ayam dan ikan lele. Air bekas kolam lele bahkan dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, sekaligus berfungsi sebagai pupuk organik.

Kepala BBCA Antonius Widodo juga berharap agar model RPH di Goa Pindul dapat ditiru oleh desa serta kecamatan-kecamatan lainnya.

Anda telah membaca artikel dengan judul Cara Desa Goa Pindul Ubah Tanah Kering Jadi Hijau. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.

Lokasi Kaweden