Gempa Sumba Barat Daya Didorong Sesar Normal, Badan Geologi Buka Riwayat Gempa 1977 dan 1983
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/flores/foto/bank/originals/RUMAH-RUSAK-Gempa-bumi-berkekuatan-magnitudo-61-melanda-Sumba-Barat-Daya-NTT.jpg)
Gempa Magnitudo 5,9 Guncang Sumba Barat Daya: Mekanisme dan Dampak yang Perlu Diwaspadai
Pada hari Minggu, 4 Oktober 2026, wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,9. Peristiwa ini terjadi pada pukul 05.55.52 WIB dan menjadi perhatian serius dari berbagai lembaga kebumian, khususnya Badan Geologi serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Gempa tersebut dipicu oleh aktivitas sesar aktif dengan mekanisme pergerakan turun atau yang dikenal sebagai sesar normal. Pusat gempa terletak di laut, tepatnya di sebelah barat daya Kecamatan Kodi, menandakan bahwa sumber utama gempa berada jauh dari daratan.
Berdasarkan analisis awal BMKG, gempa awalnya dilaporkan memiliki magnitudo 6,1 dengan kedalaman hanya 10 kilometer. Namun, setelah proses pemrosesan data lebih lanjut, nilai tersebut direvisi menjadi magnitudo 5,9 dengan kedalaman yang lebih dalam, mencapai 30 kilometer. Meskipun kedalaman relatif lebih dalam dibandingkan gempa dangkal biasanya, kondisi ini tetap menghasilkan getaran yang dirasakan cukup kuat di permukaan. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa arah pergerakan sesar berada dalam orientasi barat laut–tenggara dengan kemiringan ke arah barat daya, yang merupakan ciri khas struktur tektonik regional di wilayah Sumba.
Struktur Tektonik Kompleks di Pulau Sumba
Pulau Sumba terletak di zona geologis yang sangat dinamis, yaitu kawasan suture Banda—suatu zona pertemuan antara beberapa lempeng tektonik yang telah terbentuk melalui proses geologi panjang selama ratusan juta tahun. Interaksi kompleks antar lempeng ini menghasilkan berbagai struktur geologi seperti sesar, kekar, dan lipatan batuan yang tersebar luas di seluruh pulau. Secara umum, sesar utama di wilayah ini memiliki empat orientasi dominan: barat–timur, utara–selatan, barat laut–tenggara, dan timur laut–barat daya.
Di Sumba bagian barat, sesar yang mendominasi berarah barat–timur dan bersifat normal dengan kemiringan ke arah selatan. Sementara itu, di Sumba bagian timur, sesar cenderung mengikuti arah barat laut–tenggara, yang juga konsisten dengan mekanisme sesar normal yang diamati pada gempa 2026. Keberadaan sesar-sesar aktif ini menjadikan wilayah ini rentan terhadap aktivitas seismik yang dapat memicu gempa bumi berkekuatan signifikan.
Karakteristik Geologi dan Risiko Amplifikasi Getaran
Wilayah Sumba Barat Daya memiliki variasi bentang alam yang cukup beragam, mulai dari dataran datar hingga daerah perbukitan bergelombang. Permukaan tanah di daerah pesisir umumnya terdiri dari tanah kelas D (tanah sedang), sementara wilayah perbukitan cenderung tersusun atas tanah kelas C (tanah keras). Namun, penting untuk dicatat bahwa area di sekitar pusat gempa terdapat endapan Kuarter seperti aluvial pantai dan sungai, serta batuan Tersier berupa batu gamping yang telah mengalami pelapukan.
Endapan dan batuan yang telah lapuk ini memiliki karakteristik fisik yang lunak, lepas, dan belum kompak secara mekanik. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap amplifikasi gelombang gempa saat terjadi getaran seismik. Artinya, meskipun gempa tidak begitu besar secara magnitudo, dampaknya di permukaan bisa jadi lebih parah karena tanah tidak mampu menyerap energi gempa secara efektif. Oleh karena itu, jenis dan kondisi tanah menjadi faktor penentu dalam menilai kerentanan bangunan dan infrastruktur terhadap kerusakan akibat gempa.
Riwayat Gempa Merusak di Sumba: Pelajaran dari Masa Lalu
Catatan historis dari Badan Geologi menunjukkan bahwa Sumba bukanlah wilayah yang bebas dari ancaman gempa bumi besar. Sebelum gempa 2026, pulau ini pernah mengalami dua peristiwa gempa merusak yang tercatat secara resmi.
Pertama, pada 19 Agustus 1977, terjadi gempa bermagnitudo 8,3 yang berasal dari zona outer rise di luar zona penunjaman lempeng. Gempa ini memicu tsunami yang melanda wilayah pesisir selatan Sumba, Sumbawa, Lombok, dan Bali. Tinggi run-up tsunami di pesisir selatan Sumba mencapai sekitar lima meter, menyebabkan korban jiwa mencapai 150 orang meninggal atau hilang, serta lebih dari 1.000 lainnya mengalami luka-luka serius. Bencana ini menjadi salah satu catatan paling kelam dalam sejarah bencana alam di wilayah NTT.
Kedua, pada 31 Oktober 1983, terjadi gempa magnitudo 6,5 yang berasal dari zona penunjaman. Meskipun tidak menyebabkan tsunami, gempa ini menyebabkan retakan pada dinding rumah-rumah di sekitar Lapangan Terbang Mauhau, Sumba Timur. Kerusakan ini menandakan bahwa bahkan gempa dengan magnitudo sedang dapat memberikan dampak signifikan jika terjadi di wilayah dengan konstruksi bangunan yang tidak tahan gempa.
Selain dua kejadian besar tersebut, pada Agustus hingga September 2020, Sumba bagian barat mengalami rangkaian gempa berulang atau swarm earthquake. Mekanisme sumber gempa dalam fenomena ini didominasi oleh sesar normal, menunjukkan bahwa aktivitas tektonik di wilayah ini tidak hanya terjadi dalam skala besar, tetapi juga secara berkelanjutan dalam skala kecil.
Intensitas Guncangan dan Dampak Langsung
Berdasarkan data BMKG, guncangan dari gempa 4 Oktober 2026 dirasakan cukup kuat di beberapa wilayah, terutama di Kodi Bangedo, Kodi, dan Kodi Belaghar. Skala intensitas yang tercatat mencapai V hingga VI MMI (Modified Mercalli Intensity). Pada tingkat VI MMI, getaran gempa dapat membuat banyak orang terkejut, berlari keluar dari bangunan, dan berpotensi menyebabkan kerusakan ringan hingga sedang pada struktur bangunan.
Informasi dari Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya yang dikumpulkan oleh Badan Geologi menyebutkan bahwa akibat gempa ini terjadi sejumlah luka-luka ringan hingga sedang pada warga, sebagian besar disebabkan oleh reruntuhan bangunan yang jatuh saat gempa terjadi. Meskipun tidak ada laporan korban jiwa, kejadian ini menjadi peringatan penting akan pentingnya persiapan dan mitigasi bencana di daerah rawan gempa.
Dampak Gempa di Wilayah Sumba dan Langkah Pencegahan yang Harus Dilakukan
Kerusakan akibat gempa bumi yang terjadi di wilayah Sumba telah meluas ke sejumlah kecamatan, termasuk Kodi, Kodi Bangedo, Kodi Utara, dan Tambolaka. Berdasarkan laporan dari tim survei lapangan, banyak bangunan rumah warga maupun fasilitas umum mengalami kerusakan parah, mulai dari retakan pada dinding hingga runtuhnya atap atau fondasi. Di beberapa desa, kondisi jalan juga rusak akibat getaran kuat, sehingga menyulitkan mobilitas masyarakat dan akses ke lokasi-lokasi kritis seperti sekolah, puskesmas, dan tempat pengungsian sementara.
Meskipun gempa ini tidak menimbulkan tsunami, hal tersebut tidak berarti bahwa masyarakat bisa abaikan risiko bencana lainnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah melakukan pemodelan cepat terhadap peristiwa gempa ini dan menyatakan bahwa tidak ada potensi tsunami yang muncul. Alasannya, pusat gempa berada cukup jauh dari zona subduksi laut dan tidak menyebabkan pergeseran lempeng secara vertikal yang signifikan—faktor utama dalam memicu gelombang tsunami.
Namun, perlu dicatat bahwa meskipun tidak ada ancaman langsung dari tsunami, Pulau Sumba secara keseluruhan tetap berstatus sebagai wilayah rawan bencana tsunami. Badan Geologi menegaskan bahwa garis pantai di Sumba memiliki potensi gelombang tsunami mencapai lebih dari tiga meter, terutama jika terjadi gempa besar dengan pusat di kedalaman dangkal di sekitar lempeng Laut Flores. Faktor geologis seperti struktur tanah yang rapuh dan topografi pantai yang landai turut meningkatkan risiko dampak bencana.
Oleh karena itu, masyarakat di wilayah pesisir Sumba harus tetap waspada dan tidak mengabaikan rencana evakuasi darurat. Pemerintah daerah dan instansi kebencanaan setempat diminta untuk lebih aktif dalam melakukan simulasi tanggap darurat, sosialisasi bahaya tsunami, serta pembuatan peta zona aman di tiap desa pesisir. Selain itu, penting untuk memastikan bahwa sistem peringatan dini bekerja optimal dan dapat diakses oleh seluruh komunitas, termasuk mereka yang tinggal di wilayah terpencil.
Untuk bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa, tidak boleh digunakan kembali sebelum dilakukan penilaian teknis oleh ahli struktur bangunan. Penggunaan gedung yang belum diverifikasi bisa menimbulkan risiko kecelakaan serius, terutama jika terjadi gempa susulan. Masyarakat disarankan untuk segera melaporkan kondisi bangunan yang rusak kepada dinas terkait agar bisa dievaluasi secara cepat dan tepat.
Selain itu, langkah-langkah mitigasi jangka panjang perlu diperkuat, seperti: * Pembatasan pembangunan di zona rawan bencana. * Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang mempertimbangkan faktor geologi dan bencana alam. * Pelatihan bagi para kepala desa dan tokoh masyarakat tentang manajemen bencana dasar. * Peningkatan kapasitas tenaga teknis lokal dalam pendeteksian dan respons bencana.
Penting pula untuk menjaga komunikasi yang efektif antara pemerintah, lembaga kebencanaan, dan masyarakat. Informasi resmi dari BMKG dan Badan Geologi harus didistribusikan secara luas melalui media lokal, radio komunitas, dan aplikasi layanan publik agar semua lapisan masyarakat mendapat akses yang sama terhadap data dan arahan resmi.
Dengan kesiapan yang matang, pemahaman risiko yang jelas, serta kolaborasi antarinstansi dan masyarakat, Sumba bisa menjadi wilayah yang lebih tangguh terhadap bencana alam—baik itu gempa maupun potensi tsunami yang masih mengintai.
Anda telah membaca artikel dengan judul Gempa Sumba Barat Daya Didorong Sesar Normal, Badan Geologi Buka Riwayat Gempa 1977 dan 1983. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.
Gabung dalam percakapan