Harga Minyak Global Melonjak di Atas 1%, WTI Menembus US$65.31 Pada Rabu Sore (25/6)
RB NEWS.CO.ID - Harga minyak dunia naik lebih dari 1% pada hari Rabu (25/6) karena adanya penilaian baru tentang kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel, ditambah dengan laporan sektor energi yang mencatatkan bahwa konsumsi minyak AS masih sangat tinggi.
Melansir Reuters, Harga minyak Brent untuk penyerahan mendatang meningkat 99 sen atau sekitar 1,5% mencapai US$68,13 per barel pada pukul 16:02 waktu Jakarta.
Saat itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik sebesar 94 sen atau 1,5% mencapai tingkat US$65,31 per barel.
Perkuasan ini berlangsung setelah pada hari Selasa, harga Brent dan WTI menyelesaikan perdagangannya di titik terendahnya sejak tanggal 10 Juni untuk Brent dan 5 Juni untuk WTI, yaitu beberapa waktu sebelum Israel melakukan serangan tak terduga kepada fasilitas militer serta nuklir utama Iran yang terjadi pada 13 Juni kemarin.
Harga minyak naik tajam hingga mencapai titik tertingginya dalam setengah tahun usai serangan Amerika Serikat terhadap instalasi nuklir Iran di akhir minggu sebelumnya. Akan tetapi, ketidakpastian mengenai ganggang suplai saat ini sudah berkurang.
"Gangguan pada suplai minyak semakin berkurang," kata Giovanni Staunovo, seorang analis komoditas dari UBS.
Penurunan persediaan mengindikasikan bahwa permintaannya di Amerika Serikat tetap cukup tinggi, dan konflik perdagangan ternyata tidak serumit yang diperkirakan.
Berdasarkan laporan dari American Petroleum Institute (API) yang dirujuk oleh para pemain di pasaran, persediaan minyak mentah Amerika Serikat menunjukkan penurunan sebanyak 4,23 juta barrel hingga minggu yang berakhir pada tanggal 20 Juni.
Sebaliknya, ekspektasi penurunan cepat dalam tingkat suku bunga acuan Amerika Serikat juga membawa dampak positif terhadap pasar minyak.
Suku bunga yang lebih rendah umumnya mendukung pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi.
“Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell di hadapan Kongres kemarin mengisyaratkan kemungkinan percepatan pemangkasan suku bunga menjadi bulan Juli. Ini menjadi penopang harga minyak dari sisi permintaan,” kata Kelvin Wong, analis senior OANDA.
Rangkaian informasi ekonomi Amerika Serikat yang diumumkan kemarin, seperti penurunan indeks keyakinan konsumen, makin menegaskan dugaan bahwa Federal Reserve akan mengurangi tingkat suku bunganya pada tahun ini.
Para pelaku pasar saat ini mengantisipasi pengurangan tingkat suku bunga sekitar 60 basis poin sampai akhir tahun 2025.
Dari sudut pandang geopolitis, analisis permulaan yang dilakukan oleh badan inteligen Amerika Serikat mencatat bahwa serangan udara AS belum mampu memusnahkan seluruh kekuatan nuklir Iran dan hanya akan membuat keterlambatan sekitar beberapa bulan saja.
Pada saat yang sama, gencatan senjata antara Iran dan Israel yang difasilitasi oleh Presiden AS Donald Trump kelihatannya tetap utuh sampai hari Rabu.
Setelah 12 hari konflik, kedua pihak membatalkan batasan warga sipilnya. Konfrontasi ini turut menghadirkan serangan Amerika Serikat terhadap instalasi penambahan kandungan uranium di Iran.
"Walau ketakutan mengenai suplai dari Timur Tengah sudah berkurang, ancaman pengganggu masih ada. Sementara itu, permintaan jangka pendek tetap tinggi," demikian tertulis di catatan yang disampaikan oleh analis ING kepada para nasabahnya.
Analis independen Tina Teng mengestimasi bahwa harga minyak berpotensi berkonsolidasi pada rentang US$65 hingga US$70 per barel dalam jangka pendek. Hal ini disebabkan oleh antisipasi publik atas rilis data ekonomi Amerika Serikat yang akan datang serta putusan tingkat suku bunganya dari The Fed.
Saat ini, pasar pun sedang menantikan pengumuman resmi tentang data persediaan minyak dan bahanbakar dari pemerintah Amerika Serikat yang direncanakan akan dirilis pada hari Rabu malam berdasarkan waktu lokal mereka.
Anda telah membaca artikel dengan judul Harga Minyak Global Melonjak di Atas 1%, WTI Menembus US$65.31 Pada Rabu Sore (25/6). Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.
Gabung dalam percakapan