Sinyal Melambatnya Ekonomi Indonesia: Daya Beli dan Belanja Pemerintah di Kuartal I/2025
Kaweden MYID , JAKARTA — Ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh perlahan di kuarter I/2025. Prediksi ini tidak terlepas dari sinyal perlambatan daya beli hingga investasi langsung.
Dari sekitar 19 institusi yang dikumpulkan oleh Bloomberg, proyeksi mediannya untuk pertumbuhan perekonomian Indonesia dalam kuarter I/2025 diperkirakan mencapai 4,9% secara year-on-year. year on year (YoY).
Angka tersebut tumbuh lebih lambat bila dibandingkan dengan laju pertumbuhan ekonomi pada periode setara tahun lalu atau kuartal I/2024 yang tercatat sebesar 5,11% secara year-on-year (YoY).
Ekonom mengidentifikasi beberapa alasan yang menyebabkanperlambatan dalam pertumbuhan ekonomi ini termasuk gejala penurunan konsumsi masyarakat, perlambatan di bidang investasi dan pengeluaran oleh pemerintah, serta ancaman dari luar negeri seperti meningkatnya tensi perdagangan antarnegara.
Daya Beli
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI), Josua Pardede, meramalkan bahwa konsumsi rumah tangga, yang menjadi penggerak pokok ekonomi di Indonesia, akan bertambah sekitar 4,5% secara tahun-ke-tahun pada kuartal I/2025. Angka ini sedikit menurun dibandingkan dengan laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang mencapai 4,91% YoY di kuartal I/2024.
Joshua menyatakan bahwa penurunan kemampuan membeli itu terlihat dalam berbagai data makroekonomi contohnya hasil survei kepada pengusaha dan konsumen bersama dengan petunjuk dari sektor nyata.
Dia menyatakan bahwa Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) serta Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap berada di atas angka 100, hal ini mencerminkan bahwa persepsi publik terhadap ekonomi masih positif.
Namun demikian, lanjut dia, penurunan indeks pendapatan serta pembelian barang tahan lama—khususnya oleh kelompok berpenghasilan menengah ke bawah—menunjukkan bahwa beban pada kemampuan membeli masih terasa.
"Survei Penjualan Eceran juga mengindikasikan bahwa pertumbuhan tahunan tetap rendah di sejumlah kota besar seperti Jakarta dengan [penurunan 12,4% secara year-on-year (YoY)] dan Bandung yang mencatatkan penurunan [sebesar 6,3% secara year-on-year (YoY)]," terang Josua pada hari Minggu, tanggal 4 Mei 2025.
Serupa dengan itu, laporan yang dihasilkan oleh Center for Reform on Economics (Core) Indonesia berjudul Economics Quarterly Economic Review 2025: Pukulan Ganda untuk Ekonomi RI menunjukkan bahwa adanya indikasi pelemahan indeks penjualan riil (IPR) pada kuartal I/2025 di level 1%. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, IPR tumbuh 5,6%.
Core menilai bahwa Ramadan dan Lebaran, yang umumnya meningkatkan konsumsi masyarakat, tidak berdampak signifikan pada tahun ini. Hal itu tercermin dari Indeks Produksi Industri (IPR) sektor Pangan, Minuman, dan Rokok yang hanya naik 1,3% pada kuartal I-2025, jauh lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan yang mencapai 7,5% pada periode serupa tahun lalu.
Selanjutnya, penggunaan bahan bakar untuk kendaraan selama Ramadan dan Lebaran malah berkurang sebesar 1,1% di bulan Maret tahun 2025.
Investasi
Investasi (29,15%) menjadi elemen penyusun pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di belakang konsumsi rumah tangga (54,04%) tahun kemarin.
Menteri Investasi dan Hilirisasi serta Kepala BKPM Rosan Roeslani telah menyampaikan laporan tentang pencapaian realisasi investasi sebesar Rp465,2 triliun untuk periode Januari hingga Maret tahun 2025. Pertumbuhan tersebut meningkat sebanyak 15,9% jika dibandingkan dengan tahun yang sama di tahun sebelumnya.
Meskipun begitu, apabila dibandingkan dengan pertumbahan investasi di masa serupa tahun sebelumnya, ternyata ada penurunan laju perkembangan.
BKPM melaporkan bahwa realisasi investasinya mencapai Rp401,5 triliun di kuartal I/2024, dengan peningkatan sebesar 22,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhan investasi pada tahun lalu lebih cepat dibandingkan tahun ini.
Josua mengestimasi bahwa pertumbuhan investasi akan mencapai angka 3,11% YoY. Meskipun tingkatnya cukup stabil bila dibandingkan tahun ke tahun, penurunan diprediksi sebesar 6,50% jika dilihat dari sisi kuartalannya.
Menurut dia, penurunan investasi per kuarta tersebut menunjukkan sikap berhati-hati dari investor asing yang pertumbuhan-nya melambat (12,7% YoY) jika dibandingkan dengan investasi lokal (19,1% YoY).
"Risiko perluasan lebih jauh datang dari faktor-faktor luar seperti tariff perdagangan Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik, meskipun demikian, sektor pengolahan logam dasar tetap berperan dalam mengundang investasi," kata Josua.
Sementara laporan Core Indonesia menilai kebijakan efisiensi anggaran yang dijalankan pemerintah sejak Februari 2025 menjadi salah satu faktor utama pelemahan pertumbuhan investasi.
Cora menggarisbawahi bahwa investasi domestik di sektor konstruksi selama ini bergantung kepada kinerja BUMN karya dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Masalahnya, pembangunan infrastruktur tidak lagi menjadi program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sehingga diperkirakan investasi akan melambat.
Dipaparkan bahwa investasi dalam negeri untuk sektor konstruksi pada 2024 berada pada level 1,3% atau lebih rendah ketimbang tahun 2022. Meski nilainya tumbuh 2% dibandingkan 2023, tetapi sepanjang 2025 diperkirakan akan kembali terkontraksi.
Alasannya, terjadi pengurangan dana untuk Kementerian PUPR sebanyak 45% dari jumlah semula, yang mengakibatkan hanya tersisaRp50,48 triliun dalam anggaran. sebelumnya senilai Rp 110,95 triliun. Di pihak yang lain, b Beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang seharusnya menjadi proyek besar malah terperangkap dalam masalah tersebut. utang dan krisis keuangan.
Demikian pula, transformasi area usaha Badan Usaha Milik Negara menuju sektor perkebunan, perikanan, dan pertanian menjadi prioritas. Inti analisis juga menunjukkan bahwa perkembangan dalam bidang ini diproyeksikan untuk mengurangi minat investasi pada sektor infrastruktur.
Ekspor-Impor
Ekspor dan impor turut berperan sebagai elemen krusial dalam mengembangkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Di tahun kemarin, pengeksporan memberikan sumbangan sebesar 22,18%, menjadikannya penyumbang utama kedua ke dalam Produk Domestik Bruto (PDB) negara ini—sementara itu, bertambahnya nilai impor justru menurunkan PDB dengan persentase -20,39%.
Josua menyatakan bahwa ekspor produk dan layanan meningkat sebesar 9,52% secara tahunan. Menurut Josua, peningkatan yang signifikan dalam hal ini disebabkan oleh proses hilirisasi serta ekspor dari industri manufaktur dengan nilai tambah tinggi.
Namun demikian, tambahnya lagi, kenaikan impor sebesar 5,07% YoY menunjukkan bahwa permintaan dalam negeri masih belum sepenuhnya pulih.
"Indeks Manufaktur PMI untuk sektor-sektor penting seperti makanan dan minuman [53,81] serta logam dasar [53,65] masih di wilayah pertumbuhan, namun sektor tekstil, kulit, dan pakaian justru mengalami penurunan, yang sesuai dengan beban akibat tarif Amerika Serikat terhadap barang-barang tersebut," kata Josua.
Pada saat yang sama, Core Indonesia mengamati bahwa tarif resiprokal yang diimplementasikan oleh Presiden AS Donald Trump untuk para mitra perdagangan mereka, termasuk Amerika Serikat sendiri, dapat membebani performa eksportir dan merangsang peningkatan impor sepanjang tahun ini walaupun dampak tersebut belum nampak di kuarter pertama 2025.
Permasalahan utamanya adalah Core menganggap perdagangan di Indonesia cukup rawan terhadap tekanan luar negeri. Keprihatinan ini tampak pada tingkatan kerentanan ekspor Indonesia yang dicerminkan oleh peringkat-nya. economic complexity index yang menilai sejauh mana keragaman serta kesempurnaan dari produk-produk yang diproduksi sebuah negara.
Di daftar tersebut, Indonesia menempati posisi ke-70 dan tertinggal jauh dibandingkan dengan Vietnam yang selama 20 tahun terakhir naik pesat dari peringkat ke-94 pada tahun 2000 hingga mencapai peringkat ke-53 pada tahun 2023. Menurut Core, saat ini struktur ekspor Vietnam dipimpin oleh barang-barang bernilai tambah tinggi seperti elektronik.
Belanja Pemerintah
Tahun lalu, pengeluaran pemerintahan menyumbang sebesar 7,73% dalam menciptakan Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia. Akan tetapi, di kuartal pertama tahun 2025, telah terjadi peningkatan efisiensi dalam alokasi dana.
Joshua meramalkan bahwa pengeluaran pemerintahan akan menyusut sebanyak 2,88% secara tahun-ke-tahun di kuarter I/2025. Hal ini bertolak-belakang dengan peningkatan signifikan dalam pengeluaran pemerintah yang mencapai 20,44% di periode sama untuk tahun 2024.
Menurut Josua, pengurangan belanja pemerintah terlihat dalam realisasi APBN sampai bulan Maret 2025, yang menunjukkan angka 17,1% dari total dana belanja tahunan yang dianggarkan.
"Sangat rendahnya tingkat serapannya terhadap pengeluaran pemerintah juga berkontribusi pada perlambatan total permintaan dan kegiatan di sektor publik, walaupun pemerintah melaporkan adanya defisit Primer yang cukup besar senilai Rp 17,5 triliun," katanya.
Sementara itu, Core Indonesia menekankan bahwa pengeluaran hemat dan penyesuaian alokasi dana memang bukanlah konsep yang asing dalam manajemen keuangan pemerintah di Indonesia. Hal ini telah dicontohkan pada tahun 2016 melalui Instruksi Presiden Nomor 8/2016.
Sayangnya, tulis Core, pengalaman itu mengindikasikan bahwa kebijakan hemat biaya tersebut menunjukkan hal yang sama. Anggaran yang memiliki dampak negatif pada perkembangan ekonomi. Pada waktu tersebut, pengeluaran pemerintah menjadi kendala. pemerintah mencatat pertumbuhan yang merosot sebesar - 2,96% di triwulan ketiga tahun 2016, lalu mengalami penurunan yang lebih signifikan hingga mencapai -4,02% di triwulan keempat tahun 2016.
Sehingga, dari pengalaman itu, Core menekankan pentingnya efisiensi tetapi juga mengingatkan bahwa hal ini tidak boleh dilakukan tanpa adanya penyesuaian anggaran di pos tertentu. Hati bisa jadi memperkecil pengeluaran pemerintah terutama di kuarter awal tahun ini.
Anda telah membaca artikel dengan judul Sinyal Melambatnya Ekonomi Indonesia: Daya Beli dan Belanja Pemerintah di Kuartal I/2025. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.
Gabung dalam percakapan