Kaweden MY.ID adalah situs tempat berbagi informasi terkini. Berita dalam negeri kunjungi situs RUANG BACA. Untuk berita luar negeri kunjungi DJOGDJANEWS

Jika Segera Matikan Internet Pasca Kirim Pesan Berisiko, Mungkin Kamu Sembunyikan 6 Kekhawatiran Ini

Ruang Baca News Pernahkah Anda mengalami kejadian ketika Anda mengirimkan pesan sehingga detak jantung meningkat, dan sesaat sebelum tekan tombol kirim, Anda langsung memutus sambungan data pada ponsel? Bisa saja ini merupakan pernyataan berani, permohonan darurat, atau penggalang kasih sayang dengan resiko tinggi.

Pada saat tersebut, tubuh Anda bakal merasakan tekanan adrenalin. Sebagai gantinya dari pada harus menghadapi respons potensial yang segera timbul seperti titik-dot yang bermakna ada orang lain tengah menulis pesan atau respon kasar yang bisa datang, kamu lebih memilih untuk mencabut koneksi internetnya.

Seperti kamu mengunci ketakutan sejenak di balik pintu. Mungkin tampak sebagai tindakan gegabah biasa, namun di balik keputusan itu kerap tersembunyi rasa takut yang lebih besar.

Kecewa itu bukan cuma tentang ingin menghindari realitas, tapi juga berhubungan dengan persepsi diri, interaksi sosial, serta keraguan yang bisa timbul.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (25/4), berikut adalah enam ketakutan yang mungkin ada dalam dirimu jika seringkali mematikan internet setelah mengirim pesan yang berisiko:

1. Rasa Takut Terhadap Penolakan Secara Langsung

Alasannya utama bagi orang untuk mencabut koneksi internet seringkali adalah untuk melarikan diri dari penderitaan karena ditolak dengan segera, atau bahkan situasi yang lebih menyakitkan yaitu kebisuan tersebut.

Sebagai contoh, jika Anda menyampaikan perasaan yang sangat dalam dan siap untuk menerima respons negatif, dengan menonaktifkan koneksi Wi-Fi, paling tidak Anda bisa menghindari melihat respon tersebut secara langsung.

Rasanya takut ini biasanya bermula dari kenangan masa kecil, misalnya saat orangtua membatasi gagasan Anda atau ketika kakak tertawa atas kecemasan Anda. Saat menjadi orang dewasa, menghadapi kembali momen-momen pedih itu dapat dirasakan sebagai beban yang cukup berarti.

2. Ketakutan Akan Konfrontasi dan Pertanyaan yang Sulit

Menonaktifkan koneksi internet pun merupakan metode untuk mengelak dari tanggapan yang bakal membutuhkan penjabaran ekstra. Apabila Anda menduga bahwa orang lain dalam pembicaraan tersebut kemungkinan akan menjawab dengan pertanyaan seputar "Maksudmu apa?" atau "Alasannya kenapa begitu?", maka dialog ini dapat beralih ke arah perseteruan yang membuat Anda harus menyampaikan pembenaran tanpa memiliki cukup persiapan.

Untuk beberapa orang, risiko terlibat dalam pembicaraan panjang yang bisa membuat mereka merasa tidak nyaman mungkin menjadi hal yang ditakuti. Karena alasan ini, akan lebih bijaksana untuk mengalihkan jawaban mereka sementara waktu.

3. Ketakutan Terhadap Hilangnya Kontrol dalam Berkomunikasi

Beberapa orang merasa nyaman ketika mereka bisa mengontrol percakapan, dan salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan mengirim pesan berisiko dan kemudian menghilang sejenak. Dengan melakukan ini, mereka dapat memproses perasaan mereka sendiri terlebih dahulu sebelum menghadapi reaksi orang lain.

Kebutuhan untuk memegang kendali sering kali menunjukkan rasa tidak aman tentang bagaimana kekuatan dalam suatu hubungan bekerja. Bila sebelumnya pernah merasakan lemah—seperti biasanya ditekan oleh orangtua ataupun saudara yang otoriter—you mungkin berusaha menjaga alur komunikasi agar bisa mengelak dari situasi di mana Anda merasa dikalahkan atau diperas karena respons yang mendadak dan cepat tiba.

4. Kekhawatiran Mengenai Ketidaktentuan dan Peluang Tidak Terduga

Tidak pastinya dapat menjadi aspek terselubung lain. Saat Anda mengamati indikasi-indikasi bahwa orang lain sedang mengetik atau tampak sebagai "sedang online," pikiran Anda mungkin akan membayangkan berbagai situasi yang membuat cemas, misalnya “Bagaimana kalau tanggapan mereka nantinya malah menusuk hati?,” atau “Mengapa tidak mempertimbangkan kemungkinan mereka bakal menceritakan hal ini kepada pihak lain?”

Menonaktifkan koneksi online dapat menahan aliran peluang yang selalu bergulir dalam benak Anda. Di tengah kebimbangan itu, sebenarnya terdapat rasa tenang karena Anda tak perlu serta-merta menyongsong jawaban yang bisa saja bertolak belakang dengan ekspektasi.

5. Kekhawatiran Terhadap Perasaan Tidak Nyaman atau Malu

Seringkali, pesan yang kita kirimkan adalah sesuatu yang sangat pribadi—pengakuan perasaan, kritik jujur, atau cerita pribadi. Apa yang jika orang yang menerima pesan itu menganggapnya konyol atau berlebihan? Atau jika pengakuanmu jatuh datar dan memicu kecanggungan?

Dengan menonaktifkan notifikasi data, Anda dapat mengelak dari situasi yang mungkin membuat Anda merasa tersudut, misalnya melihat seseorang sedang membaca pesan Anda sehingga berpotensi merasa malu atau tidak nyaman. Rasa takut atas perasaan malu tersebut umumnya timbul dari pengalaman masa lalu di mana kita menjadi objek bully atau dilewatkan ketika menunjukkan kelemahan kita.

6. Kekhawatan Tentang Berinvestasi Terlalu Banyak Dalam Hal Emosi

Pada akhirnya, terdapat individu yang memilih keluar dari interaksi langsung karena rasa takut pada kedalaman ikatan emosi. Jika Anda menyampaikan pesan berisi banyak perasaan, hal tersebut bisa mengekspos diri kepada hubungan yang semakin erat—entah itu antusiasme, cinta, atau mungkin juga luka batin.

Dengan menonaktifkan ponsel, Anda mengurangi hubungan dengan emosi tertentu, seperti menciptakan ruang untuk melindungi diri sendiri dari kekuatan perasaan yang mungkin timbul. Hal ini dapat menjadi halangan besar bagi orang-orang yang berharap memiliki ikatan dekat namun ragu-ragu dalam melakukan interaksi sungguhan, disebabkan oleh rasa takut akan komitmen emosional yang lebih kuat.

Apabila Anda kerap mencopot jaringan internet sesudah mengirim pesan yang berpotensi membawa dampak buruk, Anda tak sendiri. Banyak individu yang bergumul dengan kombinasi dari trauma sebelumnya, rasa khawatir akan keamanan diri, serta asumsi tanpa diungkapkan soal cara orang lain bisa merespons.

Terkadang, mencabut koneksi internet tampaknya lebih sederhana dibanding harus menavigasi berbagai risiko yang muncul. Akan tetapi, dengan menyikapi rasa takut tersebut, kita dapat perlahan-lahan mulai mengatasinya.

Apabila Anda merasa khawatir menonaktifkan Wi-Fi sesudah mengirim pesan yang beresiko, cobalah untuk istirahat sebentar. Coba tanyakan kepada diri sendiri, "Sebenarnya apa yang ingin sayahindari? Adakah rasa takut penolakan di sini, ataukah ada alasan lain yang menyebabkan kecemasan?"

Maka dari itu, Anda bisa lebih memahami penyebab rasa takut tersebut dan mulai membiasakan diri untuk menyongsong responnya, entah itu positif maupun negatif, dengan sikap yang terbuka.

Anda telah membaca artikel dengan judul Jika Segera Matikan Internet Pasca Kirim Pesan Berisiko, Mungkin Kamu Sembunyikan 6 Kekhawatiran Ini. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.