Kaweden MY.ID adalah situs tempat berbagi informasi terkini. Berita dalam negeri kunjungi situs RUANG BACA. Untuk berita luar negeri kunjungi DJOGDJANEWS

Tasikmalaya dan Masa Depan Ruang Hidup Seni oleh AB Asmarandana

AKSARA JABAR - Di banyak kota, kesenian bergerak seperti arus kecil yang kadang deras, lalu melemah, lalu muncul kembali tanpa irama yang pasti. Tasikmalaya pun berada dalam pola yang sama memiliki denyut kreatif, tetapi sering tak memiliki arah.

Talenta hadir, komunitas bekerja, imajinasi tumbuh, namun semuanya berputar tanpa peta yang jelas. Pertanyaannya bukan lagi “ada seni atau tidak,” tetapi bagaimana seni hidup dan bertahan di kota ini?

Menurut saya, jawaban paling mendasar bukan festival, bukan lomba, bukan seremonial. Yang dibutuhkan Tasikmalaya adalah ekosistemm sebuah ruang hidup seni yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan. Seni bukan ornamen kota seni adalah organ ia bernapas, ia menyimpan memori, ia membentuk peradaban.

- FTPMN 2025 UNESA Resmi Dibuka: Api Seni Menyala, Tradisi dan Kreativitas Berpadu dalam Satu Panggung

- Perlukah Dewan Kebudayaan Kota Tasikmalaya Segera Dibentuk? Seniman: Tasik Sudah Asik!

Karena itu saya mengusulkan gagasan Tasikmalaya sebagai Kota Ruang Hidup Seni.

Ruang hidup berarti menyediakan semua prasyarat agar kesenian tumbuh: ruang belajar, ruang berlatih, ruang tampil, ruang riset, ruang dokumentasi, hingga ruang untuk mendapatkan pengakuan yang layak.

Tasikmalaya memiliki bahan baku yang melimpah: tradisi, komunitas, energi muda, dan sejarah panjang teater, tari, rupa, sastra, sampai musik. Yang kurang hanyalah sistem.

1. Penyederhanaan Struktur: Dari Rumpun ke Komite

Perombakan struktur Dewan Kesenian menjadi kebutuhan mendesak. Penyederhanaan rumpun menjadi enam komite; Teater, Tari, Sastra, Film, Musik, dan Seni Rupa bukan sekadar perubahan nama. Dengan komite, masing-masing bidang memiliki dapur gagasan, rumah kerja, dan tanggung jawab yang lebih terfokus.

Kota-kota yang berhasil membangun kehidupan seni memiliki komite yang bekerja seperti laboratorium: meneliti, menguji, merancang, dan mengevaluasi. Tasikmalaya harus belajar menuju model tersebut.

2. Peta Ekosistem Seni: Mengurangi Keacakan,  Memperjelas Arah

Tak ada kebijakan seni yang berhasil jika berjalan tanpa data. Karena itu, Tasikmalaya membutuhkan pemetaan ekosistem seni: seniman, komunitas, ruang pertunjukan, studio film, bengkel rupa, pustaka seni, ruang arsip, hingga kebutuhan teknis seperti sound system, lampu, dokumentasi, dan tenaga artistik.

Kita selama ini bekerja seperti menembak panah dalam gelap.

Dengan peta, kita melihat pola.

Dengan pola, kita menemukan arah.

3. Tasik Arts Data Bank

Saya mengusulkan sebuah basis data terbuka yang bisa diakses publik, sekolah, kampus, pemerintah, dan pelaku industri kreatif. Banyak kota tidak maju bukan karena kurang seniman, tetapi karena kurang informasi. Data adalah infrastruktur kebudayaan.

4. Inkubator Seni: Dari Pemula ke Profesional

Banyak anak muda Tasikmalaya berbakat, tetapi minim akses pengetahuan lanjutan. Inkubator seni menjadi jawabannya: program jangka panjang yang melatih keterampilan menulis, dramaturgi, riset pertunjukan, manajemen seni, produksi film, literasi budaya, hingga pengelolaan komunitas.

Seni membutuhkan ruang tumbuh, bukan hanya ruang tampil.

5. Pusat Studi Seni dan Budaya Tasikmalaya

Kita memiliki banyak karya, tetapi tidak memiliki lembaga yang merawat ingatan.

Pusat Studi ini akan menjadi rumah arsip: naskah, pertunjukan, foto, video, dokumen proses, hingga riset tentang seni dan tradisi lokal. Arsip bukan sekadar catatan; ia adalah mesin waktu yang menjaga arah masa depan.

6. Seni di Ruang Publik

Seni harus kembali hadir di tengah kehidupan warga.

Program seperti Seni Masuk Kampung, Pentas Ruang Publik, hingga konsep One Mile Gallery dapat menjadi jembatan antara seniman dan masyarakat. Seni tidak boleh hanya hidup di gedung pertunjukan; ia harus hadir di alun-alun, pasar, terminal, sekolah, gang kecil, dan kampung-kampung.

Ketika seni hadir di ruang publik, kreativitas bukan lagi milik segelintir orang ia menjadi milik kota.

7. Tasik Art Week: Perayaan Napas Kolektif

Di akhir setiap tahun, seluruh energi ini dapat dipertemukan dalam Tasik Art Week sebuah pekan apresiasi yang menampilkan hasil residensi, riset, karya komite, forum diskusi, hingga pertemuan antar-komunitas. Bukan festival seremonial, melainkan pameran pernapasan sebuah ekosistem.

Tasikmalaya bukan kekurangan gagasan.

Yang kurang adalah keberanian untuk memilih arah.

Dan arah tidak lahir dari satu nama atau satu institusi arah lahir dari kemauan kolektif untuk membangun masa depan budaya kota.

Saya menulis ini bukan sebagai calon ketua, bukan sebagai pemegang ambisi apa pun.

Saya menulis sebagai pekerja seni yang percaya bahwa Tasikmalaya memiliki peluang besar untuk menjadi pusat kreativitas yang berkarakter.

Seni yang sehat tidak hidup dari nostalgia, melainkan dari kemampuan membayangkan masa depan.

Dan masa depan itu akan tiba saat Tasikmalaya menjadikan seni bukan sekadar tontonan melainkan ruang hidup.

Semoga seluruh calon ketua diberikan kelapangan hati, kejernihan pikiran, dan kekuatan visi untuk membawa kesenian Tasikmalaya menuju arah yang lebih maju. Sukses untuk prosesnya, dan semoga yang terpilih adalah yang terbaik bagi ekosistem seni kota kita. Amin.***

Penulis: Ab Asmarandana, tokoh teater nasional

Anda telah membaca artikel dengan judul Tasikmalaya dan Masa Depan Ruang Hidup Seni oleh AB Asmarandana. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.