Kaweden MY.ID adalah situs tempat berbagi informasi terkini. Berita dalam negeri kunjungi situs RUANG BACA. Untuk berita luar negeri kunjungi DJOGDJANEWS

Masa Saat Banjir Pesanan Online tapi Produksi Kurang

Semangat promosi tanpa dibarengi dengan produksi yang mumpuni, bisa bikin usaha kita pincang, dan akhirnya menurunkan kepercayaan pasar.

Berbarengan dengan kelahiran DJOGDJA Undercover, saya punya usaha kerajinan tangan dari kain flanel. Jaman sekarang kerajinan flanel udah biasa banget, tapi dulu wow banget karena masih sangat sedikit yang menekuninya. Pun negara kita belum kebanjiran barang murah impor dari Tiongkok jadi orang masih suka yang berbau handmade.

Waktu itu saya baru resign setelah bekerja setahun sebagai wartawati. Adik bungsu saya yang waktu itu masih kelas 2 SMA bersedia membantu menangani promosi dan pesanan supaya saya bisa fokus pada produksi.

Bikin E-Commerce Sendiri

Sambil membuat kerajinan kain flanel, saya membuat website berupa e-commerce dengan domain gratisan berekstensi co.cc. Saya bikin template toko online sendiri dari mengikuti tutorial di Google. 

Saya pakai domain gratisan karena maksud penghematan, bukan pelit. Saya masih berpikir untuk kerja kantoran lagi, jadi toko online nantinya untuk side hustle saja. Makanya waktu itu saya pikir tidak perlu bela-belain beli domain dan perpanjangnya tiap tahun.

Setelah e-commerce itu cakep, lengkap, dan sudah terisi foto serta deskripsi yang lengkap kemudian saya pasang iklan di internet dengan cara bayar lewat agen periklanan online.

Beda E-Commerce dan Marketplace

Sama-sama bermakna toko online, bedanya ada pada tempat dan pengelolaannya. 

Marketplace, atau lokapasar dalam bahasa Indonesia, adalah tempat kita berdagang tanpa perlu membuat toko online sendiri karena sudah ada yang menyediakannya seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, Blibli, dan TikTok Shop. Sedangkan e-commerce adalah website yang berbentuk toko online.

E-commerce bisa dikelola oleh perusahaan atau perorangan. Sedangkan marketplace sudah pasti hanya bisa dikelola oleh perusahaan. Kalau kita menjual langsung produk secara online di website yang kita buat sendiri (bisa juga dibuatkan orang lain), lengkap dengan fitur keranjang belanja dan pembayaran di dalam toko online, itu namanya e-commerce. 

Sementara itu, kalau kita jualan online bersama dengan banyak pedagang lain dalam satu aplikasi, maka toko online itu namanya marketplace.

Produksi Puluhan Permintaan Ratusan

Dari kain flanel yang saya beli di Pasar Mayestik, Jaksel, saya bikin boneka jari, tempat pensil, gantungan kunci, hiasan pintu, dompet koin, ikat rambut, jepit rambut, dan tas selempang mini untuk menaruh ponsel. Semua hasil karya itu saya foto dengan ponsel Sony Ericsson dengan digantungkan di tanaman dan pot milik ibu saya.

Suatu hari adik saya terima telpon dari calon pengantin perempuan yang mau memesan 600 souvenir pernikahan handmade dari kain flanel. Dia minta gantungan kunci dan tas selempang mini. Pernikahannya memang masih sebulan, tapi terpaksa saya tolak karena saya sedang mengerjakan pesanan dari para teman dan kenalan.

Lagipula saya mengerjakannya sendirian tanpa bantuan siapa pun. Sungguh disayangkan pesanan 600 pcs tidak bisa dipenuhi. Dia bilang tahu produk saya dari internet.

Dua bulan kemudian adik saya ditelepon oleh MNCTV yang waktu itu masih bernama TPI-Televisi Pendidikan Indonesia milik Siti Herdiyanti Rukmana. MNCTV minta temu janji untuk meliput usaha kain flanel saya.  Dia kelabakan bingung mau jawab apa. Akhirnya saya telepon balik ke Mbak dari MNCTV itu.

Lagi-lagi saya harus menolak karena tidak punya barang display dan toko fisik yang bisa dipamerkan, cuma toko online murni. Saya juga mengerjakannya di separuh garasi dan separuh lagi di kamar saya. Betul-betul berantakan.

Promosi Harus Dibarengi Produksi

Waktu itu saya memang gencar sekali promosi dengan pasang iklan di internet. Saya ikut mailing list (milis) Bunda in Biz dan Tangan di Atas untuk memperluas pasar dan membangun jaringan. Pesanan datang dan lancar, tapi paling banyak belasan pieces saja. 

Semua produk saya handmade, tidak ada yang dijahit mesin karena bentuknya kecil-kecil jadi pesanan puluhan masih bisa saya kerjakan meski megap-megap karena harus begadang dan jarang makan. Namun, kalau ratusan pesanan, nyerah deh. 

Kalau jualan online mau bertahan sangat lama, promosi yang gencar harus dibarengi produksi yang cukup juga. Kalau tidak, bisnis kita bisa dikira main-main dan asal-asalan. Kalau sudah begitu mana mungkin usaha bisa maju.

Toko online dan usaha kerajinan kain flanel saya bertahan satu tahun saja karena saya dapat pekerjaan sebagai corporate communication dan kemudian melamar lagi jadi social media analyst. Social media analyst adalah pekerjaan terakhir yang saya tekuni sampai menikah dan punya anak.

Kadang-kadang kalau kangen bikin kerajinan kain flanel, saya jahit pakai sisa kain dari prakarya sekolah anak-anak. Asal saja bikinnya, tidak serapi waktu jualan.

Anda telah membaca artikel dengan judul Masa Saat Banjir Pesanan Online tapi Produksi Kurang. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.