Metode Latihan Seni Peran di Ngaos Art: Mengasah Imajinasi dan Kejujuran Emosi Bersama AB Asmarandana

AKSARA JABAR - Ngaos Art, Tasikmalaya, kembali menjadi ruang eksplorasi kreatif pada Jumat malam, 14 November 2025, ketika AB Asmarandana memandu sebuah sesi latihan seni peran yang diikuti tujuh peserta. Latihan ini menekankan pentingnya imajinasi, kejujuran emosional, dan kesadaran tubuh—aspek yang sering menjadi fondasi dalam proses pembentukan aktor profesional.
Seperti halnya tradisi latihan teater, kegiatan dimulai dengan niat dan doa, sebuah momen singkat yang menghadirkan ketenangan batin dan kesiapan mental. Setelah itu, AB mengarahkan peserta memasuki serangkaian latihan yang tampak sederhana, namun sesungguhnya menyimpan kedalaman teknik yang inspiratif.
- Latihan Keaktoran di Ngaos Art: Dari Niat, Doa, hingga Tubuh yang Menemukan Makna
- Rintik Hujan dan Suara Batin: Latihan Keaktoran di Ngaos Art Foundation Tasikmalaya
1. Satu Kata Satu Gerakan: Menyelaraskan Bahasa dan Tubuh
Latihan pertama dimulai dengan perintah sederhana: menggerakkan tangan sesuai ritme satu kata satu gerakan. Tujuannya bukan sekadar koordinasi, melainkan melatih kehadiran tubuh (body awareness) dan kemampuan merespons impuls verbal secara spontan.
Pada tahap kedua, peserta diminta mengulangi latihan yang sama, tetapi dengan aturan baru: gerakan tidak boleh memiliki arti yang sama dengan kata yang diucapkan. Misalnya, saat mengatakan “tidak”, peserta dilarang mengangguk atau menggeleng. Mereka harus mencari gerakan netral atau simbolik yang tidak memberi makna literal.
AB meminta peserta menghubungkan latihan ini dengan cerita aktivitas yang dilakukan pada hari tersebut. Di titik ini, peserta mulai memperlihatkan variasi ekspresi dan kreativitas mereka.
2. Bercerita Kebohongan: Pintu Menuju Imajinasi Aktif
Tahap ketiga mengulangi latihan sebelumnya, tetapi dengan cerita yang tidak pernah terjadi—misalnya mengaku memiliki banyak uang, hidup sehat, rajin beribadah, punya keberanian membunuh ular, dan lainnya. Anehnya, justru pada bagian ini peserta terlihat paling menikmati prosesnya.
Ada beberapa kemungkinan penyebabnya:
- Imajinasi bekerja lebih bebas, tanpa batasan pengalaman nyata.
- Tidak ada beban emosional, karena cerita tidak berkaitan dengan fakta hidup.
- Cerita ideal seperti sehat selalu, rajin beribadah, atau sukses finansial terasa menyenangkan untuk dibayangkan.
- Atau, seperti kata AB sambil bercanda, “Mungkin karena kalian sudah terbiasa berbohong.”
Latihan seperti ini sejalan dengan teori Stella Adler, yang menegaskan bahwa aktor harus menciptakan dunia fiksinya sendiri melalui imajinasi, bukan sekadar mengandalkan pengalaman pribadi. Adler percaya imajinasi memberi kebebasan yang lebih luas dan hasil yang lebih kaya secara artistik.
3. Melatih Kejujuran Melalui Pujian dan Posisi Sosial
Latihan berikutnya berfokus pada pengamatan karakter:
a. Memberi pujian
Peserta diminta saling memuji, dan dari situ dapat terlihat apakah pujian tersebut jujur, berlebihan, atau bahkan berupa penjilatan. Di sinilah aktor belajar membaca subteks, sesuai konsep Konstantin Stanislavski bahwa setiap kalimat memiliki maksud tersembunyi di dalamnya.
b. Latihan berpasangan
Peserta melakukan dua situasi kontras:
- Saling meninggikan diri, seolah merekalah yang paling sukses dalam pekerjaan.
- Saling merendahkan diri, seolah hidup mereka paling sulit.
Dinamika ini membantu aktor memahami status sosial (status behaviour), sebuah teknik populer dalam tradisi teater Inggris seperti Keith Johnstone, yang menilai bahwa permainan status dapat membangun karakter secara cepat dan efektif.
4. Menciptakan Ketakutan Tanpa Simulasi
Bagian paling intens dari latihan dimulai ketika peserta diminta menciptakan perasaan takut tanpa mengingat pengalaman masa lalu.
a. Dalam keadaan terang
Dengan mata terbuka, peserta harus menyalakan rasa takut hanya melalui imajinasi. Tidak mengingat trauma, tetapi menciptakan sensasi baru. Tubuh pun memberi respons spontan: napas memendek, bahu naik, dan tangan gemetar.
b. Dalam keadaan gelap
Ketika ruangan dibuat gelap, prosesnya menjadi lebih mudah dan respons tubuh semakin besar. Hal ini memperlihatkan bahwa lingkungan memengaruhi impresi tubuh dalam membangun emosi.
5. Mencari HP yang Terlihat: Melatih Kemampuan Membayangkan Realitas Baru
Pada latihan terakhir, AB meletakkan ponsel di tengah ruangan yang terlihat jelas oleh semua peserta. Namun peserta diminta mencari ponsel itu seolah-olah tidak terlihat. Mereka harus menggunakan logika pencarian yang natural dan kemudian “menemukan” ponsel tersebut.
Latihan ini menguatkan konsep dasar seni peran: aktor harus mampu menciptakan realitas panggung melalui imajinasi yang meyakinkan diri sendiri maupun penonton.
Serangkaian latihan di Ngaos Art ini menunjukkan bahwa seni peran bukan sekadar menghafal dialog. Ia membutuhkan orientasi tindakan, motivasi, dan kejujuran dalam setiap laku. Seperti kata Stanislavski, “Akting yang baik lahir dari tindakan yang benar.”
Melalui pendampingan AB Asmarandana, para peserta tidak hanya melatih tubuh dan suara, tetapi juga menjelajahi imajinasi, memaknai emosi, dan memahami hubungan antar manusia—inti dari seni peran itu sendiri.***
Anda telah membaca artikel dengan judul Metode Latihan Seni Peran di Ngaos Art: Mengasah Imajinasi dan Kejujuran Emosi Bersama AB Asmarandana. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.
Gabung dalam percakapan