Tetap Setia di Tengah Zaman yang Gelisah
Tetap Setia di Tengah Zaman yang Gelisah
Zaman ini memang tak mudah. Dunia bergetar: berita buruk datang silih berganti, kepercayaan pada satu sama lain retak, dan banyak orang (terutama yang lelah secara batin) mulai bertanya: "Apakah Tuhan masih memegang kendali?"
Hari ini, Kitab Suci menjawab pertanyaan itu dengan penuh keyakinan: Ya, Tuhan tetap setia. Dan panggilan kita dalam situasi seperti ini bukanlah menunggu keajaiban turun dari langit, melainkan menjadi orang-orang yang tekun, jujur, dan penuh harapan, meski arus zaman berusaha menyeret kita ke arah sebaliknya.
Dari Api Penghakiman, Terbit Cahaya PemulihanNabi Maleakhi menggambarkan "hari Tuhan" seperti perapian, api yang membakar kesombongan dan kejahatan. Mungkin terdengar menakutkan. Tapi bagi mereka yang takut akan Tuhan, api itu bukanlah hukuman, melainkan pemurnian. Di situlah "Surya Kebenaran" terbit: bukan untuk menghanguskan, tapi untuk menyembuhkan, memulihkan, dan mengembalikan pengharapan.
Ini pengingat bagi kita: Allah tidak membiarkan kejahatan menang selamanya. Ia tidak diam atas ketidakadilan. Dan pada waktunya, Ia akan menegakkan keadilan bukan dengan dendam, tapi dengan kasih yang adil.
Bersoraklah, Sebab Tuhan Datang dengan Setia!Mazmur 98 mengajak seluruh bumi bersorak: "Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan!" Mengapa? Karena Tuhan datang bukan untuk menghukum sembarangan, tapi untuk menghakimi dengan kebenaran dan kesetiaan.
Dunia sering memberi keadilan yang lambat, bias, atau bahkan palsu. Tapi keadilan Tuhan berbeda: Ia mendengar jerit orang yang terpinggirkan. Ia memulihkan yang luka. Ia mengangkat yang rendah hati.
Inilah alasan kita bersukacita bukan karena situasi sudah baik, tapi karena Allah tetap benar, bahkan ketika dunia goyah.
Iman yang Nyata: Bekerja dengan Tanggung JawabPaulus tidak bicara dalam awan-awan teologis. Ia sangat praktis: "Kalau ada yang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2Tes 3:10)
Ini bukan sekadar nasihat disiplin, tapi pernyataan iman: Bekerja jujur adalah bentuk penghormatan pada martabat manusia. Tanggung jawab sehari-hari adalah bagian dari panggilan suci. Malas rohani sering dimulai dari malas dalam hal-hal kecil.
Di era yang gemar pada instant result, godaan terbesar bukanlah dosa besar tapi sikap: "Nanti saja... biar orang lain... toh Tuhan kan Maha Pengasih."
Padahal, kesetiaan Tuhan paling nyata ketika kita setia pada hal-hal kecil: pekerjaan, keluarga, komitmen, dan kejujuran.
"Jangan Takut", Kata yang Diulang Yesus di Tengah BadaiYesus bicara tentang Bait yang runtuh, bangsa yang saling bertikai, bencana, bahkan penganiayaan. Gambaran yang mengerikan tapi di tengah semua itu, Ia berkata:
"Tetapi janganlah kamu takut... Aku akan memberi kamu kebijaksanaan..."
"Dalam ketekunanmu kamu akan memperoleh hidupmu." (Luk 21:18-19)
Bukan: "Kamu pasti lolos dari masalah." Tapi: "Aku akan menyertaimu di dalamnya."
Ketekunan (hypomon dalam bahasa Yunani) bukan berarti gigih ala manusia kuat tapi bertahan dengan iman, meski lelah, meski sakit, meski tak mengerti. Seperti Opa Antonius Porat ajarkan: "Percaya, taat, dan jaga tubuh sebagai bait Roh Kudus." Itu juga bentuk ketekunan, iman yang diwujudkan dalam pilihan sehari-hari.
Refleksi untuk Hidup Kita Hari IniDi tengah kegelisahan zaman, kita tidak perlu jadi pahlawan besar, cukup setia pada panggilan kita hari ini: Sebagai orang tua yang sabar, sebagai pekerja yang jujur, sebagai kakek-nenek yang tetap berdoa dan mendoakan cucu-cucu, sebagai umat yang tak berhenti bersyukur, meski badan masih pegal, meski napas belum lega sepenuhnya.
Kesetiaan bukan soal sempurna, tapi terus kembali, terus memilih jalan Tuhan, meski terasa berat.
Dan ingatlah selalu bahwa Allah tak pernah membiarkan pengorbanan kecil kita sia-sia. Setiap doa yang dipanjatkan dalam sunyi, setiap pilihan sehat yang dijaga meski godaan besar, setiap senyum yang diberikan meski hati sedih, itu semua tercatat di surga sebagai tanda kasih yang setia.
Mari kita akhiri dengan keyakinan yang tenang: "Tuhan tetap memegang hidup kita, bukan karena kita kuat, tapi karena Ia setia. Dan dalam ketekunan iman, kita tidak hanya bertahan... kita memperoleh hidup."
Semoga damai Kristus yang melampaui segala akal memelihara hati dan pikiran kita semua.
Amin.
Anda telah membaca artikel dengan judul Tetap Setia di Tengah Zaman yang Gelisah. Semoga bermanfaat dan terima kasih sudah berkunjung di website Kaweden MYID.
Gabung dalam percakapan