Wall Street Naik Seiring Dampak Mereda Perang Dagang AS-China
Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Jumat (25/4), mencatatkan kenaikan mingguan seiring investor mencermati laporan keuangan sejumlah perusahaan dan mencari tanda-tanda meredanya ketegangan dalam perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
Mengutip Reuters , Indeks Dow Jones Industrial Average (.DJI) naik 20,10 poin atau 0,05 persen ke level 40.113,50. Indeks S&P 500 (.SPX) menguat 40,44 poin atau 0,74 persen ke 5.525,21. Sedangkan Nasdaq Composite (.IXIC) melonjak 216,90 poin atau 1,26 persen ke 17.382,94.
Dari 11 sektor utama di S&P 500, sektor konsumen diskresioner dan teknologi memimpin kenaikan, sementara sektor material mengalami penurunan terbesar secara persentase.
Indeks S&P 500 dan Nasdaq terdorong oleh kenaikan saham-saham jumbo teknologi terkait kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, indeks Dow Jones yang terdiri dari saham-saham blue-chip bergerak lebih moderat.
Di bursa Nasdaq, sebanyak 2.317 saham mengalami penguatan dan 2.024 saham melemah, dengan rasio saham naik terhadap turun sebesar 1,14 banding 1.
Pada saat bersamaan, indeks S&P 500 melihat 4 saham menembus puncak tertinggi selama 52 minggu serta 6 saham lainnya meraih titik terendah sepanjang tahun tersebut.
Beijing mengecualikan beberapa produk impor dari AS dari tarif 125 persen, tetapi membantah klaim negosiasi yang disampaikan oleh Donald Trump. Ini terjadi setelah pernyataan dari Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang bernada meredakan ketegangan menjadi sinyal terbaru bahwa dua ekonomi terbesar dunia mulai menurunkan intensitas perang dagang yang selama berminggu-minggu telah mengguncang pasar.
"Pekan ini dimulai dengan sentimen jual yang tinggi, tapi kemudian diikuti rebound yang sangat solid. Secara keseluruhan, ini adalah minggu yang kuat, yang dipicu oleh adanya sinyal de-eskalasi dalam perang dagang dengan China,” kata Greg Bassuk, CEO AXS Investments di New York.
Kemudian, musim laporan keuangan kuartal I telah mencapai puncaknya, dengan 179 perusahaan dalam indeks S&P 500 telah merilis laporan. Dari jumlah itu, 73 persen mencatatkan hasil di atas ekspektasi.
Saat ini, analis memperkirakan pertumbuhan laba gabungan perusahaan di S&P 500 untuk periode Januari–Maret mencapai 9,7 persen secara tahunan, lebih tinggi dari estimasi 8,0 persen per 1 April 2025.
Tetapi para investor lebih memilih untuk beralih perhatianannya dari hasil pelaporan terkini menuju perkiraan masa mendatang, terutama proyeksi yang telah direvisi turun atau dicabut akibat ketidakstabilan ekonomi serta penurunan dalam pengeluaran konsumen.
Universitas Michigan mengumumkan hasil final dari indeks persepsi konsumen untuk bulan April. Walaupun telah ditingkatkan dalam revisinya, angka ini masih menempati posisi terendahnya sejak Juli 2022, dan harapan tentang inflasi yang tinggi pun tetap bertahan.
Saham Alphabet meningkat sebesar 1,7% karena adanya kenaikan pendapatan Google Cloud sebanyak 28% serta kepercayaan pasar atas potensi AI milik perusahaan tersebut. Di sisi lain, saham Intel jatuh 6,7% setelah mengumumkan perkiraan pendapatan yang di bawah harapan.
Meski demikian, saham SLB jatuh sebesar 1,2% karena tidak berhasil menembus harapan keuntungan dan mengingatkan adanya ancaman perubahan industri disebabkan oleh ketidakpastian ekonomi serta beban biaya tariff. Sebaliknya, Charter Communications naik tajam hingga 11,4% berkat hasil penjualan yang melebihi perkiraan pasar dan pencapaian kenaikan jumlah pelanggan lebih tinggi dari dugaan semula.
Pada Bursa Efek New York, jumlah saham yang mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan yang menurun dengan perbandingan 1,33 ke 1. Ada 54 saham yang memperoleh titik harga tertinggi baru sementara 27 saham lainnya mencapai posisi terendah sejauh ini.
Volume perdagangan di bursa Amerika Serikat mencatatkan angka 14,30 miliar saham, yang lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata 19,13 miliar saham per sesi pada 20 hari bursa terakhir.
Gabung dalam percakapan